andai datang suatu masa (2nd ed)

•August 18, 2008 • Leave a Comment

andai datang suatu masa
ketika persekutuan angin-bintang
menjelma bukan lagi bayang,
apa yang kau impikan?
rumah dari semua puisi cinta
yang belum sempat kita tuliskan?
taman bunga dari selaksa rindu
yang selama ini kita pendam kejam?
bolehlah..

tapi karena kita adalah jelata
yang akan meruntuhkan singgasana
dan mencopot mahkota
maka jangan banyak berharap
selain bulan madu di surga.

ramadhan-dzulqaidah 1428

menggerakkanku

•July 26, 2008 • 5 Comments

akhirnya…
secercah canda yang begitu hangat
menggerakkanku membayar sekian lama kecewa

aku menapakkan tanda tanya yang begitu besar:
siapa kira aku punya nenek lagi?
ilalang yang tau hampir semua hal
tak mampu menjelaskan
sebuah cinta tak beralasan

buaian mesra di kejauhan bersamanya
akhirnya…

belajar blogging

•January 23, 2008 • 15 Comments

wah..ternyata bener2 menjamur! temen2 di kampus aja dah pada gatel belajar bikin blog n nulis sendiri. sepertinya ini indikasi yang bagus mulai berkembangnya gairah ber-media. sueeeneng banget ngeliatnya. setidaknya dah lebih dari 10 orang belakangan ini yang memintaku ngajar blogging. padahal aku ini bisa apa seeh? liat2 donk aku ini orangnya kayak apa. ga salah tuh, minta ajari aku? lha wong sekarang aja masih terus eksplorasi otodidak. coba deh browsing, ada banyaaaak banget materi tentang belajar ng-blog. kata pak edy sih: IQRA’ !! baca donk, baca!
insya Allah mudah dipelajari sendiri kok. tapi klo banyak yang pengen belajar, misal ada 30an orang, bisa bikin kelas tutorial tuh…! hayo…sapa yang mo jadi penyelenggaranya!!! hayo3!!

masih di sini

•January 12, 2008 • 5 Comments

maaf karena telah pergi cukup lama
tanpa kata permisi, ucapan pamit
atau rangkaian frasa lain
yang mengisyaratkan perpisahan sementara.

doakan aku tak tenggelam dalam tumpukan amanah
yang tak kunjung reda,
entah sampai lepas nyawa

1 Muharram 1429,
sekedar ingin mencumbui kata sapa…
rasa tetap ada,
damaikanlah hatimu juga.

kenalkan, mb dita

•January 12, 2008 • Leave a Comment

mas, ini mbak dita yang itu lho…
yang dah njawab pertanyaan jadulku sebelum sampean,
trus sampean bilang : “iku ga takon, tapi ngetes…”
….
yup, betul. mbak dita yang aku sayaaang sekali padanya.
yang melihat episode keajaiban kita mulai dari awaaaaaal sekali.
menemaniku tumbuh dewasa….
whuaah…senang bisa mengenalkannya pada sampean.

Sukses LFA 2007

•December 17, 2007 • Leave a Comment

“Alhamdulillah.
Saya benar-benar merasa Allah mengijabah doa saya.
Saya hanya minta sedikit saja waktu itu
tapi Allah telah memberi banyak sekali.”

WORKSHOP COMPUTER & DESIGN GRAFIS
“LAYOUT FOR ALL 2007″
Jakarta, 15-16 Desember 2007

PRESENTED BY
MEDIA KAMPUS
[STIS]

adhek-adhek yang sungguh makin kusayang

•December 13, 2007 • 3 Comments

mbak :
Maka jangan pernah mengira dia melakukan ini karena cintanya pada manusia,
atau karena seruan bidadari di penghujung malam-malamnya..
Maka yakinlah bahwa dia melakukannya karena cintanya pada Rabbnya,
bukan yang lain…
dan buatlah ia makin yakin akan hal itu.
Kumohon…
buat dia makin yakin…

ndut :
apaan c…maksudnya?

mbak :
Bentar lagi dia datang.
Kularang kau tertawa,
cukuplah tersenyum tanda syukur dan bahagia…


adhek-adhekku…
entah kenapa, makin hari, sayangku makin bertambah pada kalian
Allah-lah yang mempertemukan kita, mengumpulkan kita di rumah baru kita
saat itu aku makin yakin, Allah sudah memesankan episode indah
tentang kita, padaku.
akan kuukir cinta di hatimu, adhek.
dengan peluh dan canda tawa…

Salam Perdamaian

•October 5, 2007 • 6 Comments

Makanya tho, jangan aneh2
Lha wong lagi enak2nya berlibur dalam damai
tiba2 “bikin ulah”
Coba apa yang terlintas ketika orang baca ini, ini, terus ini, dan ini.
Lalu seenaknya sendiri mengganti wajah…ha…ha.., ternyata cuma iseng.
yah..bolehlah, terserah.., kupikir ada apa-apa.

Bukankah perjanjian damai tak harus diukir di atas prasasti?
Waktu mengajarkan kita untuk mereguk damai dalam diam, dalam keheningan gugusan bintang, dalam kesunyian hembusan angin.
Mereka yang mengantarkan perdamaian itu, tak selalu lewat kata.
Karena aku takut, kata, bisa membawa luka.
Dan aku tak ingin itu terjadi, terlebih pada orang yang …
(akh, tak kuasa aku meneruskan)

Gelisah merayap pergi…

•October 5, 2007 • 3 Comments

Gelisah itu mungkin wajar menyapa di saat-saat seperti ini. Sebentuk kekhawatiran akan akhir dari kisah yang ditapaki dengan sunyi. Sejejak demi sejejak makin meninggi. Mempertajam keresahan karena bisikan-bisikan yang memekakkan telinga. Kalau sudah begini, aku hanya mampu diam.

Kekhawatiran pada kemampuan diri sendiri, dibayangi prasangka yang tak perlu sama sekali. Mampukah aku menjadi seperti yang dia minta? Bagaimana dengan mereka? seperti apa yang mereka minta? Lalu bagaimana dengan mereka-yang lain? belum mereka, apalagi mereka, mereka, mereka, dan mereka…?

Bukankah menikah itu tak sekedar menjadi seorang istri?
Ia juga menjadi seorang menantu, cucu, adik ipar, kakak ipar, sepupu ipar…
Terlebih nanti menjadi seorang ibu, bibi, nenek,…

Ahh…seenaknya saja para wedding organizer itu menggelar rapat koordinasi di mana-mana, dengan siapa saja, kapan saja. Bahkan hampir tiap saat, terutama menjelang malam. Pake loudspeaker lagi. Siapa bisa tahan? Kalau sudah begini, aku hanya mampu diam. Syukur-syukur kalau bisa mundur teratur, lalu kabur menyelamatkan diri. Selebihnya, aku hanya bisa sembunyi di balik almari, tempat sajadah terbentang rapi.

Tapi, di suatu sujud terdalamku, aku malah menemukan puncak kekhawatiran di sela-sela ilalang.
Khawatir lepas dari pelukan kasih dan rahmatNya. Bahkan di saat-saat yang paling membahagiakan, saat yang membuatku tersungkur dan dihujani ribuan syukur, dihadapanNya.
Aku juga menemukan hantaman ketakutan di balik bintang gemintang. Takut jika ternyata aku mempersiapkan diri hanya untuk menjadi seorang pendamping hidup terbaik. Takut jika ini kulakukan bukan untukNya, menjadi pemujaNya, sepanjang hidup, sepanjang mati. Padahal urutan Naskah hanya ada padaNya, telah sempurna tertuliskan dengan tinta dan pena terbaik, jauh sebelum ketakutan ini ada.

Rabbi, maka biarkanlah sajadahku basah sebagai diary padaMu yang paling sabar mendengar dan saputangan dariMu yang paling lembut menyeka.

Rabbi, ijinkanlah jari jemariku menyentuh menggapai langit kuasaMu agar sedikit kuraih ketegaran, menata kembali tegaknya niat padaMu, mengikhlaskan onak dan duri melintas dalam perjalanan mendekat dan berlarian menuju kebenaranMu.

Rabbi, jika semua rasa ini hanya mimpi dariMu, maka bangunkan aku segera. Kumohon, sadarkan aku dari tidur panjang yang kureka-reka sendiri. Musnahkan semua rasa dan tinggalkan satu cinta. Cinta yang dengan sabar Engkau ajarkan padaku perlahan-lahan, cinta dariMu, sepanjang hidupku, sepanjang matiku.

Namun jika ini nyata, jadikanlah aku tetap terjaga. Jangan biarkan aku lengah, ya Rabb. Apalagi sampai tergelincir, walau di jurang terdangkal sekalipun. Karena aku tak ingin ia terluka sedikitpun. Karena ia adalah persembahan. Sebentuk cinta padanya untukMu.

Maka halaulah segala ketakutan ini, karena aku ingin yakin bersamaMu, dengan janjiMu yang pasti. Kuserahkan semua padaMu, Pemilikku, Pelindungku, Pemeliharaku…
agar gelisah ini merayap pergi.

sebelum berubah

•October 5, 2007 • 3 Comments

Mungkin aku salah pilih kata, walau bisa jadi, ini hal yang sepele.
Tapi siapa tahu diseberang sana malah menimbulkan salah pengertian.

Bukan masalah sengaja atau tidak, karena tentu tak mungkin aku sengaja berniat meninggalkan luka. Apalagi sejak aku hafal sebuah kedipan dari alam bawah sadarku, agar jangan sampai hatimu tergores lagi sedikitpun, atau kalau tidak aku akan kembali jatuh sakit, hingga ayah bundaku akan sedih tiada tara.

Mungkin lebih kepada sadar atau tidak. Karena jurang keheningan yang kian dalam kita gali,
membuatku tak tahu apa yang tengah terjadi di seberang sana. Apalagi sepanjang tahun lalu itu.
Hingga apapun yang kulakukan, tanpa kusadari, bisa jadi melukaimu. Kecuali pada hal-hal yang sangat terpaksa karena telah melampaui kesanggupanku. Aku yakin kau sanggup mengerti bahwa pelimpahan tanggung jawab itu terjadi saat aku kehilangan cara kecuali membawamu serta dalam kepedihanku. Walau saat itu aku sadar, bisa jadi kau terluka karenanya.

Tapi sekali lagi, seperti yang pernah kukatakan berulang kali, “kadang kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu, sejauh mana kesalahan-kesalahan kita itu membuat orang lain menderita.”

Ah, tapi bukankah segala episode yang sering kita sebut dengan perang (jangan2 kau sebut L.Q.?), tentu bukan berwujud nyata seperti makna yang sebenarnya. Karena tak pernah ada perang bagiku, kecuali sekedar canda. Karena canda itu juga candu, kan ya? Seperti halnya percaya dengan takhayul.

Segera setelah sembuh, aku akan patuhi bapak untuk segera mencabutnya dari gusiku.
i promise…