Sebuah syair dari Elia Abu Madhi

Sebuah syair dari Elia Abu Madhi

Orang berkata,”Langit selalu berduka dan mendung.”
Tapi aku berkata,”Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana.”

Orang berkata,”Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata,”Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengmbalikannya.”

Orang berkata,”Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka.
Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya.
Bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya.”
Maka akupun berkata,”Tersenyumlah dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya.”

Orang berkata,”Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan. Ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus.”
Tapi aku berkata,”Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu.
Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya.
Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang lain,
apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?”

Orang berkata,”Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka.
Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara,
namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham adanya.”
Kukatakan,”Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara dan kerabat yang kau cintai.”

Orang berkata,”Malam memberiku minuman `alqamah.”
Tersenyumlah, walaupun kau makan buah `alqamah
Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang
akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah.
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham
atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium
juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa
mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang.”

Orang berkata,”Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia
yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah.”
Kukatakan,”Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal,
setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum.”

CUPLIKAN LA TAHZAN_yg tak kan pernah basi_
[April 7, 2006]

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 21, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: