CANTIQUE

Kisah
UKHTI ed xx
by Matsu Mazasupa

cantique kost plus tetangga

Rumahnya tak jauh dari kampus. Kalau aku berangkat dari tempat kami belajar ini, tinggal jalan kaki sekitar…berapa ratus meter ya..? Aku belum pernah ngukur sih! Yach, kira-kira 400 meter-an lah (sebenarnya estimasiku payah, jadi jangan langsung percaya ya..). Mulai dari gang gajah (emang ada?), gang kelinci, sampai gang tikus yang berliku-liku bisa mengantarkanku ke tempat tinggalnya. Lewat jalan raya depan kampus, aku tinggal belok kiri menuju gang pertama yang cukup menanjak.

Tapi kita harus hati-hati ketika berpapasan dengan kendaraan beroda dua di antara gang kecil beraspal itu. Pasalnya di kanan kiri jalan itu membentang selokan air yang begiitu luas dan dalam. Aduh, ga kebayang rasanya kalau tiba-tiba tercebur kedalamnya gara-gara takut keserempet sepeda motor atau terpesona nikmat rupanya gado-gado yang sengaja nampang di mulut gang sampai-sampai ga perhatikan jalan. Gimana enggak, air gotnya saja beraneka warna, ada putih, coklat, tapi lebih dominan hijaunya lumut dan hitamnya sampah! Ih…jijay…! Kabur aja, dech! Bete banget ngeliatnya. Tapi jangan khawatir, kita ga bakal keserempet yang beroda empat, soalnya emang ga bakal muat lewat di sana, kecuali rodanya aja!

Perjalanan berikutnya membawaku menyusuri gang tikus. Sempit sih emang iya, tapi yang bikin ga tahan itu kantong-kantong sampah yang bergelantungan di depan pagar rumah. Masih mending kalau diletakkan di kotak atau tempat sampah di bawah pagar. Nah, ini justru bener-bener dipajang di atas pagar! Sejajar sama tinggi orang lagi. Gimana hayo kalo yang lewat banyak orang? Kan bisa macet gara-gara gang sempit yang semula bisa dilewati 2 orang jadi cuma dipakai satu jalur (takut keserempet sampah). Apalagi kalo yang berpapasan itu orang yang jualan kue donat sama kue bola (ada yang mau? Beli sendiri ya..). Kan kasihan juga waktu makanan mereka sempat ‘berlindung di bawah naungan sampah’ walau hanya sepersekian detik.

Coba saja hitung berapa peluangnya (???) ada kotoran yang sempat ‘nemplok’ di atas kain penutup makanan selama dia melewati kantong-kantong sampah yang ‘nangkring’ di atas pagar. Bahkan ada kemungkinan kita sendiri yang ‘tertetesi’ cairan dari sampah basah atau sampah apa pun kala hujan menyerang.

Ah, tapi demi sampai ke tempat tujuan, aku harus rela bersusah payah. Ayo, luruskan niat ke sasaran semula, karena sebentar lagi kita sampai..! Tuh, di depan itu, setelah sampai di jalan besar lagi, tampak satu rumah berpagar hijau yang cukup sederhana. Yang jelas, di atas atau bawah pagarnya ga ada sampah yang ‘dijajakan’ he..he.. soalnya sudah ada tong sampah yang guuedhe banget di depan rumah, tepatnya di sisi kanan pagar yang berbatasan dengan rumah sebelah.

Nah, kita masuk yuuuk..! Tekan saja belnya di….lho, eh, kok copot? tinggal kotak tempat belnya aja yang masih ada. Oh iya, lupa, kemarin kan sama Bapak kos dah dievakuasi. Katanya sih bel yang baru dipasang belum ada seminggu itu rusak gara-gara kehujanan… hi..hi…orang yang aneh! Teriak aja deh, “Assalamu’alaikum….!”. Iya, emang musti kenceng, karena terasnya yang tidak begitu luas tapi panjang ini memisahkan pagar dan pintu rumah dalam jarak yang cukup bikin sang tamu kecapekan bilang salam. Wah, aku ingat !! (cling!! muncul bola lampu kuning di atas kepalaku!). Sesuai kesepakatan, aku miscol aja dulu, biar si empu rumahnya turun dan membukakan pintu buat tamunya yang imut nan mungil ini…cieee…narcis…!!

Sambil menunggu dia keluar, aku melihat di sekitar teras dalam. Ada sepasang kursi di teras bawah dan sepasang kursi lagi plus meja kaca di teras atas yang keduanya dihubungkan dengan 2 anak tangga kecil. Sepertinya teras bagian bawah ini sengaja hanya diisi 2 kursi supaya terkesan lapang dan gampang dibersihkan. Eh, iya sih emang bersih kok. Baru di teras atas yang sebenarnya juga masih menyatu dengan halaman rumah, ada sepetak tanah yang ditumbuhi tanaman-tanaman (aduh apa ya namanya?? Kalo ga salah di antaranya ada daun mahkota dewa). Walaupun sempit, setidaknya kebun kecil ini berusaha sekuat tenaga mengusir kegersangan suasana.

Eh, derit pintu pagar membuyarkan lamunanku dan wajah cantik yang sangat kukenal itu melongok keluar menyambutku dengan simpul senyumnya. Aku langsung dipersilahkan masuk dengan ramah dan kami pun melangkah ke dalam. Sepintas aku sempat membaca beberapa tulisan besar yang terpampang di sebelah pintu masuk yang sepertinya adalah tulisan senada dengan yang menyambutku di sebelah pagar tadi. “KOS PUTRI” “TAMU LAKI-LAKI DILARANG MASUK”. Wah…hebat juga security Bapak kosnya. Salut dech, Pak!

Jreeng..! Belum selesai kagetku, aku sudah dikejutkan lagi dengan aura di dalam ruang utamanya. Meskipun tidak seberapa luas, tapi meja, kursi, lemari dan perabot lain seakan sudah diatur setepat mungkin supaya ruangan terasa lebih lega. Padahal ruang tengah ini menjadi satu dengan dapur, yang sudah pasti sumber utama dari segala ke-berantakan-an (ih, baku ga sih??) kalau ga rajin-rajin dibersihkan.

“Eh, sandalnya ga usah dilepas!” katanya mengingatkan begitu melihatku yang reflek melepas alas kaki karena melihat lantai putih yang “kinclong-kinclong” (artinya : bersih mengkilat). “Oh, iya-iya ! Emangnya ga takut kotor?” tanyaku sambil masih terbengong. “Ah, ga pa-pa. Kan sudah ada jadwal piket masing-masing hari. Alhamdulillah semua tertib. Kita ke kamarku di atas aja ya, biar santai!”

Subhanallah !! Pantas saja rumahnya bersih, kamarnya saja bener-bener rapi. Karpet merah merona tanpa ada helai rambut berjatuhan atau serpihan-serpihan sampah, kasur standard bernuansa hijau dan korden panjang bercorak kuning. Katanya sich semua itu dari Bapak kos, jadi biarpun warna-warni tapi matching kok. Kamarnya ga begitu luas, namun untuk ditempati satu penghuni bisa dibilang cukup nyaman, karena satu meja besar dan satu lemari pakaian masih juga muat bersarang di kamar ini. Paling menarik adalah cara menyiasati kardus-kardus bekas menjadi rak buku multifungsi yang diletakkan di atas meja besar itu menemani seperangkat PC standard. Setidaknya masih tersisa cukup space untuk menulis dan membuka beberapa buku di atas meja.

“Hmm, aku ga tahu kalo kamu suka pakai pengharum ruangan?” tanyaku sambil duduk melepas lelah di atas kasurnya. “Jangan salah, ini wangi dari sabun mandi yang belum dipakai sebagai pengganti pengharum ruangan. Nih, sengaja kubuka bungkusnya dan kuletakkan di atas meja supaya kamar ga bau. Hi..hi… lebih murah kan?? Oh iya, sebentar ya, kuambilkan minuman dulu.”

Terdengar langkah kakinya menuruni anak tangga satu per satu. Wah, bener-bener kos impian, jadi pengen pindah ke sini nich. Ada kamar kosong ga ya?? Kamarnya yang nyaman membuatku ingin membaringkan tubuh sejenak. Hmmm, leganya….

………

“Whoi, bangun ! Whoi !” Suara itu mendarat di telinga bersamaan dengan guncangan di sekitar bahuku. “Emm, apaan sih?” jawabku balik bertanya. “Mana artikelnya? Deadline-nya hari ini, lho! Bangun doong..!”
“Siapa sih? Aduh, Mbak pimred! Iya-iya, mbak! Aku bangun! Sudah kok.” sahutku masih setengah sadar. “Sudah apanya? Mana?” sergahnya tak sabar. “Iya, sudah. Sudah ada di kepala, barusan aja ada ilham lewat mimpi tapi ga selesai gara-gara mbak bangunin aku!” jawabku sedikit kesal. “Apa? Ga bisa, pokoknya hari ini sudah harus sampai di meja editor….bla..bla…bla…”

………

Tahu ga si cantik yang punya kos-kosan itu siapa? Mau tahu? Dia itu aku, dan aku adalah dia..hua..ha..ha.. Ga percaya kan? Sama !! Yach, aku hanya ingin bikin tempat tinggalku seperti kos impian itu. Susah emang iya !! Ibuuu….!! Maafkan aku! Aku menyesal tak pernah membantu bersih-bersih kala di rumah dulu….!! Hiks 998546x…

Kamar F-E-G

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: