DOSAKU BELUM LEPAS

Masih teringat, belum lepas,
Memandang hina, penuh kejijikan.
Melempar sangat rendah dalam senyum seribu arti.
Muka tembokku terkekang, erat lekat.
Takluk dalam tunduk pengertian tanpa perasaan.

Belum lepas, wajah kekasihku lelah penuh suram.
Walau tertepis sejuk wudhu.
Walau tak kulihat lagi mata bahagianya.
Belum lepas, penuh ikatan.
Kami ragu mengawali loncatan di atas sepotong tali,
Yang sedikit demi sedikit mulai rapuh, patah dan putus.
Belum lepas merasa letih.

Dua wajah berbeda berseteru,
Perang dalam gejolak bathin penuh bimbang tiada henti.
Lembut mengalun, hening memercik.
Syahduku membuai sikap pasrah dan menyerah.
Kejam menusuk busuk rongga hati.
Hitamku memaksa sikap melawan dan arogan.

Ia penuh diam dengan mata bulat hitam di atas mulutnya.
Mengulur sebuah tali membuang tak peduli.
Dan tali merah mengikat diri,
Jangan bergeming, lalu mati.
Maka mati dalam syahduku dan hitamku.

Menimba waktu mencari sisa.
Menggali sejuk mencari celah.
Memeras lorong memburu puing.
Dalam gelap relung jiwa tak terkendali.
Akankah waktu kembali berlari.

Belum lepas penuh ikatan.
Waktu berjalan tak kan pulang
Dalam sejuk relung jiwa terus mengalir.
Sampai suatu saat nmanti kan membawanya pergi.
Bersama segala dosaku yang berakar
Hingga menghujam bumi
Melebur dan meluluhlantakkan,
Sampai serpihan tubuhku yang terakhir.

Dosaku berawal di atas tiga kursi
Dan harus berakhir di atas tiga kursi
[2002]

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: