MUMPUNG MASIH LAPANG

Kisah
UKHTI ed xx
by Matsu Mazasupa

Kupercepat langkah tanpa menghiraukan sepatu hitamku yang mulai mengalami degradasi kualitas karena usia. Tak terhitung berapa kali nafasku tersengal-sengal saat memaksakan tubuh berlari menyusuri gang-gang sempit di antara padatnya pemukiman sepanjang kampus-kost. Yah, tak ada yang bisa kulakukan selain harus pulang dan secepatnya kembali ke kampus, demi sebuah buku berisi PR Calculus hari ini. Kalau tidak, entah bagaimana nasibku di kelas nanti. Bukan ! Bukan karena Bu Tina killer atau sering kasih kuis dadakan. Bukan begitu! Karena toh nyatanya Bu Tina bukan dosen killer apalagi kasih kuis dadakan. Tapi karena aku tidak pernah siap saat materi mulai disampaikan. Tidak pernah siap saat papan tulis mulai berderit kegelian melihat cacing-cacing integral bergoyang di atasnya. Bahkan tidak pernah siap hingga di akhir pertemuan beliau menyerahkan soal-soal latihan alias PR untuk pertemuan mendatang. Sama seperti sekarang, tidak pernah siap sampai waktu PR harus dibahas. Parah !

Fiuh… aku tiba di kost disambut dengan riuh rendah suara anak-anak SD yang sedang bermain-main. Namun hal itu tidak mampu mengusir ucapan teman-teman yang masih menggema di telingaku. Betapa komentar teman-teman pagi tadi menunjukkan pengertian mendalam tentang diriku yang cukup phobia dengan calculus. ”Matsu itu seee..lalu duduk di depan, kecuali waktu calculus” Grrrrr…tawa pun membahana memenuhi seisi kelas. ”Ah, Nila tau aja. Hi..hi.. jadi malu.” Ya, sudahlah. Toh nyatanya memang benar. Untuk kesekian kalinya aku membuat permakluman terhadap diriku sendiri.

”Nah, ini dia ! Pantesan nggak kelihatan, lha wong jatuh di bawah meja…” tak terasa aku bicara sendiri. Begitu tersadar, segera kamar kukunci dan melesat ke kampus lagi.

***

”Hey..pulang yuuk!” teriak Eny dari BPM mengagetkanku.

”Eh, nggak. Pulang aja duluan. Aku mau fotokopi catetan calculusnya Fatre. Keburu kubalikin ke yang punya.” ujarku sambil terus berjalan meninggalkan Eny. Fatre yang masih berjalan di sampingku tiba-tiba menimpali.

”Gak papa kok, bawa aja dulu. Balikinnya kalo dah difotokopi. Tapi maaf ya, kalo ga rapi, soalnya banyak yang pake pensil.”

”Ah, ini aja dah rapi banget kalo buat aku. Fatre bisa aja.” Dalam hati aku masih bertanya, kalo ga rapi aja seperti ini, trus gimana yang rapi? Duh, lagi-lagi ini gara-gara aku ga konsen waktu kuliah tadi. Maklumlah, daya serapku memang payah. Kalo dengerin dosen ngajar sambil nulis malah ga masuk-masuk tuh materi. Duuh..pentium berapa sih, nih otak?

Tubuhku seakan melayang tak bertenaga menuju sebuah Fotocopy Center (biar keren dikit) di belakang pom bensin sebelah kampus. Pikiranku menerobos waktu mengenang kesalahan sejak SMA. Saat itu, tiap kali pelajaran Matematika datang, segala hal terasa begitu mudah tertancap di pikiranku kecuali materi Matematika itu sendiri. Suasana canda ceria di dalam kelas melenakan perhatianku terhadap hampir semua mata pelajaran terutama Matematika. Kebiasaan buruk pun menjadi-jadi. Duduk dibelakang, mojok bersama gerombolan murid-murid tukang rame, makan snack atau permen sembunyi-sembunyi sampai chating di atas kertas yang beredar di seluruh penjuru kelas. No comment dengan segala PR, asalkan saat ulangan selalu siap dengan contekan.

Byuh, masa laluku memang kelam. Tapi, habislah gelap, terbitlah terang. Sejak Ramadhan terakhir di SMA, hidupku mulai mengalami pencerahan yang cukup meyakinkan hingga kini. Walaupun, semangat dan kepercayaan diri belum sepenuhnya pulih untuk survive di dunia statistik, matematika banget gitu looh..!

Begitu sampai di tempat fotokopi, aku langsung menyodorkan beberapa lembar loose leaf yang dipenuhi angka dan grafik itu.

“Tolong difotokopi persis seperti ini ya urutannya. Supaya nanti bisa dimasukin di binder, Mbak! Tapi nanti saya sendiri yang nglubangi kertasnya.”

“Bolak-balik ya, Mbak?” tanya pelayan fotokopi itu.

“Iya, persis kayak gini aja. Ini halaman pertama, taruh aja di sebelah kanan. Terus, halaman kedua langsung dibaliknya.” ujarku sambil membolak-balik sebuah loose leaf.

“Berarti, satu lembar kertas A4 ini diisi dua lembar loose leaf, terus dipotong?” tanyanya lagi mencoba memastikan.

“Ya, mbak. Benar” jawabku singkat.

Seketika tangan-tangan perempuan itu asyik mengutak-atik mesin fotokopi. Udara yang kering seakan tidak menaruh belas kasihan padanya yang harus berdekatan dengan hembusan panas dari pantat si mesin. Kulihat dia membolak-balik beberapa loose leaf itu dengan penuh ragu, seakan khawatir salah mengurutkan. Dan, memang benar. Usaha pertamanya gagal, halaman kedua tercetak di sisi yang salah. Aku diam saja, toh kalau salah cetak kan aku tetap ga bayar. Keringatnya mulai menetes karena kipas angin kecil di atas ruang sempit itu tak berdaya mengusir terik di siang ini.

Sekali lagi dia mencoba mengurutkan, setelah sebelumnya berusaha memastikan posisi yang tepat di permukaan fotokopi. Begitu keluar hasil fotokopiannya, ternyata masih juga berbuah kesalahan. Halaman keempat dari lembar pertama tercetak dengan arah yang salah alias terbalik. Fyuh, capek deh, gumamku dalam hati. Tapi rupanya si Mbak tetap pantang menyerah.

”Susah ya, Mbak?” tanyaku sekedar basa-basi.

”Yaa, maklumlah baru belajar. Masih suka bingung.” katanya sambil tersenyum tanpa dosa. ”Nggak keburu-buru kan, mbak?” tanyanya kemudian.

”Oh, nggak kok.” jawabanku kali ini seakan membuatnya lega.

Entah kemudian sampai berapa kali dia berusaha agar hasil fotokopian itu tercetak dengan arah dan urutan yang benar. Peluh yang mengguyur seketika merubah wajah kaosnya seperti cucian yang siap dijemur. Basah..sah! Orang lain mungkin tidak akan tahan jika berada di posisiku. Namun, melihat perjuangannya yang tak kunjung padam merupakan kenikmatan tersendiri di relung hatiku. Padahal sebelumnya dia sempat memaklumi dirinya sendiri, tapi hal itu tak merubah konsistensinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Sepertinya dia menyadari bahwa kesulitan ini merupakan kesempatannya untuk belajar dan menanggalkan gengsi, merelakan kenyataan bahwa ia belum begitu mampu mengoperasikan sang mesin pengganda.

Kini kutatap lekat-lekat diriku sendiri. Permakluman yang erat menyelubungiku, justru membuatku tenggelam dalam kepasrahan tanpa pernah menemukan kembali gelombang pasang semangat untuk berjuang. Serendah itukah diriku kini? Bukankah Allah masih begitu sayang dengan memberikan nasib yang lebih baik padaku? Kelapangan rizki, melimpahnya waktu, kenikmatan sehat…. Hey, berapa banyak karunia yang kulalaikan. Betapa bodohnya aku menelantarkan anugrah yang tiada terkira dariNya.

Permakluman tak sepantasnya menjadikanku berjalan di tempat. Bukankah di saat yang sama, ada banyak orang yang mampu memaksimalkan potensi dirinya hingga mampu menjadi pribadi yang berkualitas dan sukses di banyak bidang. Astaghfirullah, tak pantas aku menzalimi diriku sendiri, menganggap tak cukup atas nikmat yang seharusnya kusyukuri. Akankah kusiakan masa kuliahku dengan mengulangi salah yang sama? Mungkin hal ini sepele bagi kalian, tapi bagiku… ini adalah awal dari proses perjuangan tanpa akhir. BELAJAAR!!!

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: