RAMADHAN I’M IN LOVE

Kisah
UKHTI edisi xx
by Matsu Mazasupa

Kereta Gajayana yang membawaku ke Jakarta telah tiba di stasiun Jatinegara. Kulihat sekilas, jam bundar besar di stasiun itu menunjukkan pukul 07.00 pagi di awal Ramadhan ini. Yah, biasa…selalu terlambat 1 jam dari jadwal yang seharusnya. Sebelum kereta benar-benar berhenti, para kuli pengangkut barang sudah berhamburan menyerbu para penumpang di dalam kereta. Aku melambai ke salah satu dari mereka, sebagai tanda bahwa aku membutuhkan jasa mereka untuk membawa barang bawaanku yang cukup banyak. Yup, ”cuma” satu set PC dekstop standard, satu tas ransel, dan satu lagi handbag merah. Hi..hi.. ini mah kayak orang mo pindahan aja.

Seorang pria setengah baya menghampiriku. Badannya tidak begitu besar pun tidak terlalu tinggi, tapi sorot mata yang tajam dan kulitnya yang legam seakan bercerita dengan polos tentang kerasnya perjuangan hidup yang dijalaninya. Kusodorkan satu dus besar yang berisi monitor 14 inch, sedangkan aku masih sanggup menggendong tas ranselku dan menenteng 1 box CPU plus handbag di kedua tanganku. Kami turun dari kereta dan melanjutkan “atraksi” kami sepanjang jalan keluar stasiun. Tapi sebelum melewati jalur kereta terakhir yang terdekat dengan pintu keluar, kami terpaksa berhenti sampai sebuah KRL lepas landas dari rel tersebut.

Sejenak, Bapak kuli itu melihat ke arahku. Sedikit heran tampaknya. Mungkin karena tubuhku yang cukup kecil ini hampir tidak terlihat, kalah guedhe dengan “sak ombyok” (jawa : setumpuk) bawaanku. “Sini, Neng. Saya aja yang bawa !” sahutnya tiba-tiba sembari meraih CPU di tangan kananku. “Gak papa, Bang. Soalnya itu kan pasti berat banget” jawabku seraya menunjuk dus monitor yang nangkring di atas pundaknya. Seolah tak mendengar, Bapak kuli itu tetap enteng saja membawakannya sampai di tempat mangkal taxi-taxi. Fiuh, padahal aku rela bersusah payah membawa semua barangku, selain monitor itu, tak lain supaya ongkosnya ga mahal-mahal. Tapi, karena sudah terlanjur, ya apa boleh buat. Kuberanikan diri berspekulasi, setahuku ongkos angkut barang sekitar 5 ribu. Karena service-nya “memuaskan”, sengaja kuberikan 6 ribu, sesaat setelah dia menurunkan barang bawaanku di ujung pintu keluar. Tak disangka, dia berkata kalem “Kelebihan, Neng. 5 ribu aja.” Gubrax! Jawaban itu serasa membuatku terjungkal bersama barang-barang bawaan yang menempel di tubuhku (kayak di komik-komik itu lho :P). It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan seorang kuli seperti dia tidak berani menerima uang yang bukan hak-nya!

Aku masih terpaku ketika SERIBU rupiah itu kembali ke tanganku. Kupikir, uang segitu bakal berarti buat orang seperti dia. Nyatanya, sebuah kejujuran membuatku sadar bahwa Bapak kuli itu jauh lebih “rich”. Padahal, tidak jarang aku masih merasa kurang dengan uang kiriman orangtua. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Padahal, keadaanku sudah JAUH lebih baik daripada dia. Allah sudah sedemikian sayang padaku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan Bapak kuli itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan. Ternyata di celah-celah kejamnya kota Jakarta akibat jajahan liberalisme ini, masih ada orang-orang yang “survive” jiwanya.

Awal Ramadhan ini, aku merasa mendapat pelajaran berharga. Pikiranku masih melayang-layang sampai taxi yang mengantarku sudah sampai di depan pintu kos. Begitu masuk rumah, aku melihat sosok perempuan yang masih asing di mataku. Beberapa saat aku mengernyitkan dahi, mencoba menerka siapa gerangan perempuan misterius ini. Yah, aku baru ingat cerita seorang teman kosku yang sudah datang duluan di Jakarta, kalau sejak bulan ini Cantique Kos menyediakan fasilitas seorang pembantu rumah tangga (kalimat yang satu ini beneran lho!). Why not? Bisa jadi dia ini pembantu baru di tempat kosku. JRENG !!! Eng..ing..eng…! Kaget ya, ada pembantu di sebuah tempat kos?

“Ini Mbak Mimin ya…?” sapaku mengakrabi (nama samaran, aslinya Mince binti Minul). “Iya,” jawabnya singkat.

“Saya Ayu, sudah berapa hari Mbak di sini?” lanjutku.

“ Sekitar 2 mingguan-lah. Mbak, baru pulang ya?” Heh, lega sekali mendengar dia balik bertanya. Yah, setidaknya aku tidak perlu khawatir kalau dia bakal enggan berkomunikasi dengan hangat.

“Iya, saya baru mudik ke Malang sebentar.”

Tak lama, aku pun pamit meninggalkannya ke kamarku di atas untuk mandi dan istirahat, setelah sebelumnya ucapan “selamat berpuasa”-ku dijawabnya dengan senyum simpul dan kata-kata polos “Sama-sama, Mbak!”

Sore hari, aku ngobrol dengan Ika, salah seorang penghuni kos ini. Merencanakan konsep-konsep per-kos-kos-an yang baru pasca kehadiran Mbak Mimin. Bahkan saking getolnya, tercetuslah ide membuat semacam jadwal kerja Mbak Mimin setiap harinya dan ditaruh pada semacam kotak saran yang kami sebut “Mimin by Request” (keren gak sich… 😛 ). Selain supaya praktis, kami tidak perlu sungkan untuk memintanya bantuan tenaganya secara langsung. Berhubung jam kerja Mbak Mimin cuma pagi hari, maka kami harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Selain menyapu dan mengepel setiap hari, kami boleh memintanya untuk membersihkan kamar mandi setidaknya seminggu sekali. Kalau kebetulan piring dan gelas kotor tampak menumpuk saat jam kerjanya, boleh jadi Mbak Mimin punya wewenang untuk membuatnya “bersih bersinar kembali”.

Tiba-tiba terbersit keraguan di wajah Ika, “Tunggu dulu, gimana kalo seandainya Mbak Mimin itu ga bisa baca, hayo? Kalo ga salah dia kan masih seusia SMP, tapi kok dah ga sekolah.”
Tuing…tuing…tuing…!!

“Masa sich, segitunya??” sahutku tak kalah ragu. Akhirnya kami memutuskan untuk memastikan hal yang paling mendasar ini langsung ke orangnya demi terwujudnya program “Mimin by Request”. Konsekuensinya, jika memang benar Mbak Mimin ga bisa baca tulis, kami bertekad untuk membebaskannya dari illiteracy.

Singkat cerita, proyek “Mimin by Request” sepertinya harus ditunda dalam waktu yang tak terbatas. Yup, PR besar buat kami se-kos-an : Mbak Mimin yang SD aja ga lulus, ternyata memang illegible, eh… salah, illiterate ! Lagu lama…. gak ada lagi biaya buat bayar ongkos sekolah yang mahalnya bukan main. Kalau tidak ingat lagi puasa, hampir saja aku mengumpat atas sistem pendidikan kapitalis yang sedang menjajah negeri ini. Astaghfirullah …, maaf, sedikit emosi! Habis, orang mau pinter aja musti kaya dulu. (tanya kenapaa??). Sudah sewajarnya kalo pendidikan itu murah, kalau memang belum bisa gratis.

Pantas saja, sewaktu kami tawari untuk belajar baca tulis, dia suueeneng banget. Sebenarnya dia dah bisa sih dikit-dikit, tapi karena dah ga ada yang membimbing, tingkat kelancaran membacanya makin parah. “Tapi ada syaratnya, Mbak! Sementara Mbak latihan baca tulis, ntar Mbak juga mesti blajar baca Al-Qur’an. Gimana?” ujarku saat itu. Finally, Mbak Mimin sepakat untuk mengulangi ngajinya mulai dari IQRA’ 1, walaupun dulu sudah pernah sampai di IQRA’ 3.
Setidaknya, ini justru bisa menjadi agenda pertama dalam daftar “Mimin by Request”.

Bergiliran, setiap hari, kami mendampinginya meraih terangnya cahaya ilmu Allah. Semangatnya yang luar biasa, makin menghiasi hari-hari Ramadhan di kosan kami. Ternyata perempuan kelahiran Bogor ini orangnya ramah sekali, sesekali dia bercerita tentang kisah hidupnya di kampung halaman. Dua adiknya diasuh sang Paman di Bogor karena ibunya telah meninggal setahun yang lalu, sedangkan Ayahnya baru-baru ini bekerja sebagai kuli pengangkut barang di stasiun Jatinegara……..

???? Mulutku tercekat, namun bathinku tak henti meneriakkan takbir dan tasbih atas segala keajaiban di Ramadhan yang mulia ini.

“Say: Believe in it or believe not; surely those who are given the knowledge before it fall down on their faces, making obeisance when it is recited to them. And they say: Glory be to our Lord! most surely the promise of our Lord was to be fulfilled. And they fall down on their faces weeping, and it adds to their humility.”
(Q.s. al-Isra’: 107-109).

****
Cerita ini FIKTIF belaka, jika ada kemiripan dalam segala nama, itu merupakan kesengajaan yang MEXO.

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: