sampai batas waktu

phoem
UKHTI edisi xx
by matsu mazasupa

Aku adalah semilir angin yang berhembus menyusuri pori-pori tubuh manusia dengan sepi.
Aku adalah bulir-bulir hawa yang mengalir di urat nadi manusia dengan sunyi.
Aku adalah guratan-guratan yang tercipta di segala usia.
Aku adalah tangis-tangisan yang mengiringi berjuta duka.
Aku lebih dekat dari bayangan di sekujur tubuh manusia.

Aku adalah beribu gunung terhempas di atas dada.
Aku adalah gurun kering tandus di puncak dahaga.
Aku adalah salju membeku dan kaku.
Aku adalah kedahsyatan,
tapi sesuatu yang datang sesudahku, jauh lebih dahsyat.

Aku adalah saat pagi-siang-petang menjadi tak berbeda,
jika tanpa malam-malam yang bersujud menjadi penerang.
Aku adalah kesendirian di tempat terpencil,
jika tanpa untaian ayat suci yang menjadi penghibur.

Aku adalah pertemuan yang dinanti, tanpa janji,
di batas waktu manusia yang sepi.
Gelap gulita, mencekam, mati.

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: