Seputar Perlindungan Hak Cipta

From The ReAders
ReAd_Me #2 ed (23 Jan – 4 Feb 2007)
by buttercup_disarikan dari majalah Al-Wa’ie ed xxx (maaf lupa juga)

Dalam Islam, kepemilikan secara umum diartikan sebagai izin Asy-Syâri‘ (Allah) untuk memanfaatkan barang. Karena itu, hak untuk memiliki sesuatu tidak muncul dari sesuatu itu sendiri atau manfaatnya, tetapi dari izin syariat yang membolehkan seseorang untuk memilikinya sesuai dengan sebab-sebab syar‘î, seperti jual-beli dan hadiah.
Islam telah memberikan kekuasaan kepada individu atas apa yang dimilikinya, yang memungkinkan ia dapat memanfaatkannya sesuai dengan hukum syariat. Islam juga telah mewajibkan negara agar memberikan perlindungan atas kepemilikan individu dan menjatuhkan sanksi bagi setiap orang yang melanggar kepemilikan orang lain.
Mengenai kepemilikan atas pemikiran baru, ada dua jenis dari kepemilikan individu:
(1) Sesuatu yang terindera & teraba, seperti merk dagang dan buku.
(2) Sesuatu yang terindera tetapi tidak teraba, seperti pandangan ilmiah dan pemikiran jenius yang tersimpan dalam otak seorang pakar.

Apabila kepemilikan tersebut berupa kepemilikan jenis pertama, seperti merk dagang yang mubah, seorang individu boleh memilikinya serta memanfaatkannya dengan cara mengusahakan atau menjualbelikannya. Negara wajib menjaga hak individu tersebut, sehingga memungkinkan baginya untuk mengelola dan mencegah orang lain untuk melanggar hak-haknya. Dalam Islam, merk dagang memiliki nilai material, karena keberadaannya sebagai salah satu bentuk perniagaan yang diperbolehkan secara syar‘î. Merk dagang adalah label product yang dibuat oleh pedagang atau industriawan bagi produk-produknya untuk membedakan dengan produk yang lain, yang dapat membantu para pembeli dan konsumen untuk mengenal produknya. Definisi ini tidak mencakup merk-merk dagang yang sudah tidak digunakan lagi. Sebab, nilai merk dagang dihasilkan dari keberadaanya sebagai bagian dari aktivitas perdagangan secara langsung. Seseorang boleh menjual merk dagangnya. Jika ia telah menjual kepada orang lain, manfaat dan pengelolaannya berpindah kepada pemilik baru.
Adapun mengenai kepemilikan fikriyyah, yaitu jenis kepemilikan kedua, seperti pandangan ilmiah atau pemikiran brilian, yang belum ditulis pemiliknya dalam kertas, belum direkamnya dalam disket atau pita kaset, maka semua itu adalah milik individu bagi pemiliknya. Ia boleh menjual atau mengajarkannya kepada orang lain, jika hasil pemikirannya tersebut memiliki nilai menurut pandangan Islam. Jika hal ini dilakukan, orang yang mendapatkannya dengan sebab-sebab syar‘î boleh mengelolanya tanpa terikat dengan pemilik pertama, sesuai dengan hukum-hukum Islam.
Hukum ini juga berlaku bagi semua orang yang membeli buku, disket, atau pita kaset yang mengandung materi pemikiran, baik pemikiran ilmiah ataupun sastra; ia berhak untuk membaca dan memanfaatkan informasi-informasi yang ada di dalamnya; ia juga berhak mengelolanya, baik dengan cara menyalin, menjual atau menghadiahkannya. Namun demikian, ia tidak boleh mengatasnamakan (menasabkan) penemuan tersebut pada selain pemiliknya. Sebab, pengatasnamaan kepada selain pemiliknya adalah kedustaan dan penipuan yang diharamkan secara syar‘î. Karena itu, hak perlindungan atas kepemilikan fikriyyah merupakan hak yang bersifat maknawi, yang hak pengatasnamaannya dimiliki oleh pemiliknya. Orang lain boleh memanfaatkannya tanpa seizin dari pemiliknya. Jadi, hak maknawi ini hakikatnya digunakan untuk meraih nilai akhlak.
Karena itu, secara syar‘î tidak boleh ada syarat-syarat hak cetak, menyalin, atau proteksi atas suatu penemuan. Setiap individu berhak atas hal itu (memanfaatkan produk-produk intelektual). Pemikir, ilmuwan, atau penemu suatu program, mereka berhak memiliki pengetahuannya selama pengetahuan tersebut adalah miliknya dan tidak diajarkan kepada orang lain. Adapun setelah mereka memberikan ilmunya kepada orang lain dengan cara mengajarkan, menjualnya, atau dengan cara lain, maka ilmunya tidak lagi menjadi miliknya lagi. Dalam hal ini, kepemilikinnya telah hilang dengan dijualnya ilmu tersebut sehingga mereka tidak berwenang melarang orang lain untuk memanfaatkannya, yaitu setelah ilmu tersebut berpindah kepada orang lain dengan sebab-sebab syar‘î, seperti dengan jual-beli atau yang lainnya.
Apresiasi yang sepatutnya dilakukan, mutlak berasal dari Negara sebagai penjamin kesejahteraan masyarakatnya. Apalagi jika warganya sangat berjasa dalam kemajuan peradaban masyarakat. Negara wajib memberikan penghargaan tinggi, baik berupa moral maupun material. Contoh konkritnya, para khalifah memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Bayangkan saja, waktu itu sebuah buku tidak ditulis di atas kertas seperti sekarang, tapi bisa di daun lontar, kulit atau yang lain.
Semata-mata ini adalah perhatian Islam yang mendalam pada masalah pendidikan. Rasulullah saja, menetapkan tebusan tawanan perang Badar berupa mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas, taruhlah 1 gram emas Rp120.000,00. berarti gaji seorang guru Rp7.650.000,00). Bandingkan dengan gaji seorang guru besar (profesor) di Indonesia, yaitu Rp2.600.000,00 dengan pengabdian 33 tahun. Sungguh ironi.
Jadi, “PEMBAJAKAN” MEMANG HARAM, TAPI ITU DI DUNIA KAPITALISME. Maka, bersegeralah menerapkan hukum Islam secara kaffah, agar kesejahteraan manusia bisa segera diwujudkan, di dunia dan akhirat. Allahu Akbar !! (red:Allahu Akbar 9995642x !!!)

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on January 26, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: