NEVER ENDING SUCCESS

By : Debby Anggraeni & Gilang Axelline.

Kesuksesan itu apa ya? Kaya, paras rupawan, kedudukan terhormat, terkenal? Ternyata itu gak jaminan dari sebuah kesuksesan. Kesuksesan yang benar-benar sukses itu sukses abadi. Maksudnya kesuksesan itu bisa dirasakan sampai di akhirat ! (Wow!!)

Never Ending Sukses (Sukses Tanpa Batas)
Sukses tanpa batas itu mencakup 2 aspek, sukses dunia dan sukses akhirat. Sukses dunia sendiri ada sukses pribadi dan sukses sosial. Pernyataan ini bisa dirumuskan :
NES = SD + SA
= SP + SS + SA
Yup, itu semua dari sebuah buku karangan Mas Budi Hartono yang berjudul Never Ending Success. Dalam acara bedah buku hari Jumat, 26 Januari 2007 kemarin, Mas Budi mengungkapkan beberapa isi bukunya. Di antaranya, rumus di atas. Masih ada rumus lainnya kok! Grafik juga lho …. (mentang-mentang anak statistik, he he he). Hal yang unik dari buku ini adalah inspirasi sebuah pohon! Mas Budi memberikan gambaran sebuah pohon sebagai inspirasi kesuksesan karena pohon, menurutnya, memiliki Tujuh Pesona. Pesona yang diajarkan sebuah pohon, yaitu : Akar yang kokoh, Tumbuh tiada henti, Memberi tanpa batas, Maksimalkan diri, Warisan berarti, Always rich, dan Harus berani dewasa. Penjelasan dari masing-masing pesona itu silahkan diresapi dalam-dalam di buku NES.

Belajar dari sebuah pohon, tanya kenapa? Mas Budi menjawab, inspirasi pohon datang dari sebuah sobekan kertas, buku-buku, situs-situs yang semuanya mengungkapkan keajaiban sebuah pohon. Ternyata pohon itu bermanfaat banyak bagi makhluk lain dan dengan kekuatannya, pohon bisa mengatasi bahaya yang menghadang seperti badai dan terik mentari. Kalau ditulis manfaat sebuah pohon, bisa buanyaak banget. Tapi asal kalian tahu, NES sendiri juga mengungkapkan keburukan pohon (ada pohon yang bersifat parasit juga kan?) Penasaran? Baca aja bukunya. Beli di toko-toko buku atau ngikut bedah bukunya Mas Budi, he he (walau sampai luar Jawa, mau???) Karena ada bazar juga yang jual buku NES.

Acara Bedah Buku
Hampir jam 9 pagi di hari Jumat, 26 Januari 2007, bedah buku NES di Aula STIS dimulai. Penampilan awal yang dipersembahkan oleh Iwan F. Fauzan, mahasiswa tingkat I, berupa pembacaan puisi ”Aku” karangannya sendiri disambut meriah oleh peserta karena kekocakkannya. Setelah itu ada nasyid dan pengumuman para pemenang lomba AKSI. Ternyata, Bedah Buku NES yang diselenggarakan ROHIS ini adalah puncak acara peringatan 1 Muharram 1428 H di kampus kita.

Peserta bedah buku tidak banyak, karena ada kegiatan lain yang jadwalnya bersamaan. Misalnya, STIS Futsal League juga Liga Catur Putra yang memasuki minggu ke-2. Tapi peserta bedah buku tetap semangat kok, bahkan sampai di penghujung acara. Berhubung adanya keterbatasan waktu, acara pun ditutup pukul 11.30. Rasa penasaran yang masih tersisa di hati para peserta karena bedah buku yang belum tuntas, tampaknya cukup terobati dengan doorprize yang dibawakan MC. Lantunan lagu “SurgaMU” dari rekan-rekan tingkat I menyempurnakan akhir dari acara ini.

Nah, itu tadi bagian dari perjalanan Mas Budi untuk memperkenalkan buku ke-duanya. Sebelumnya, Bedah Buku yang sama telah digelar dalam acara launching di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan di Mall Margo City Depok, Toko Buku Gunung Agung. Menurut rencana, bedah buku selanjutnya akan diselenggarakan di Solo dan Jember. Nah, rekan-rekan yang belum sempat hadir sebelumnya, bisa segera mempersiapkan diri untuk tour selanjutnya. Sukses dech, buat Mas Budi!

Tentang Penulis
Penulis kelahiran Karanganyar, 2 Juli 1984 ini masih berstatus mahasiswa di STIS, perguruan tinggi kedinasan, di Jakarta Timur. Mas Budi, begitu biasa dipanggil, masih aktif di ROHIS STIS dan sibuk menjadi pembicara dalam beberapa pergelaran bedah buku NES. Mimpinya sejak kecil untuk menjadi penulis, baru terwujud saat beliau duduk di bangku kuliah. Menjadi penulis menghasilkan karya yang bisa ditinggalkan untuk generasi selanjutnya.

Mas Budi berharap segera lahir penulis-penulis berikutnya agar “warisan” untuk generasi berikutnya semakin banyak. Pesan Mas Budi,

Menulislah, karena dengan menulis kita akan menjadi manusia sejarah yang bisa meninggalkan sesuatu untuk generasi mendatang.
Membacalah, kita bisa mendapat sesuatu.
Kehidupan bisa dilakukan, kesuksesan bisa ditaklukkan asal tak pernah berhenti menuntut ilmu dan membaca buku.
Membaca tanpa menulis tidak memiliki kesempatan untuk menulis sejarah, sedangkan menulis tanpa membaca, maka tulisan akan terasa hambar.
So, membaca dan menulislah!

Dari liputan tentang bedah buku dan sekilas tentang NES plus penulisnya, kita sebagai mahasiswa STIS patut berbangga. Dengan rasa bangga yang kita miliki, kita mulai lagi hari baru dengan semangat baru. Mimpi yang kita miliki sangat mungkin akan terwujud. Mau kan, menjadi orang yang meraih Never Ending Success?

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on March 2, 2007.

2 Responses to “NEVER ENDING SUCCESS”

  1. Aku masih terus bertanya-tanya: adakah sukses yang tanpa batas itu? secara ilmu logika, sungguh tidak masuk akal kalau ada kesuksesan tanpa batas. semuanya terbatas. hanya Allah yang tak terbatas. jadi, apa sebenarnya sukses itu? masih sangat “prematur” kalau kita hanya mendefenisikan sukses dengan rumus2 belaka. saya tidak menyalahkan atau mematahkan teori kesuksesan dalam buku Mas Budi. Sungguh tidak! tapi, banyak hal yang membingungkan. dari membaca buku tersebut hanya berisikan ungkapan kata-kata hati. sehingga, orang2 yang memiliki latar belakang matematis sungguh kurang dapat menerimanya. pasalnya, sekali lagi, tulisan-tulisan dalam buku tersebut 99% hanya mengandalkan kekuatan hati dan (maaf) terkesan menggurui pada pembaca. akibatnya, kalo kita membaca satu, dua tulisan saja, rasa bosan mulai menyelinap dalam diri kita. nah, aku pun, sekali lagi, masih bingung memaknai sukses dalam buku tersebut.

    yang perlu kita ingat, pembaca juga memiliki otak. pembaca, bukan semata-mata memiliki hati. coba, kita baca buku: Quantum Ikhlas. di situ akan engkau temui konsep sukses yang menurutku mendekati kebenaran. kenapa? karena ia mengungkapkan seluruh potensi manusia, dari otak, otot, sampai jiwa. dan gaya bahasanya pun begiru mencerahkan, komunikatif, dan tidak terlalu banyak kutipan dari sana sini. murni hasil pengungkapan ide orisinal.

    mungkin seperti itulah masukkan dariku kepada penulis2 islam. sampai saat ini aku kerap kali menemukan tulisan-tulisan para dai masih banyak menggurui pembaca. mungkin inilah salah satu penyebabnya kenapa pembaca banyak meninggalkan buku2 mereka.

    berbeda dengan penulis2 barat. saya membaca karya2 mereka begitu memesona. mereka menulis dengan komunikatif, tidak mencela, dan menerima perbedaan. sungguh luar biasa. mudah2an kita pun menghasilkan tulisan yang baik.

  2. Wah, sepertinya Mas Budi harus mampir ke blog saya, nih.
    Ajakin ngumpul di sini aja, Mas Rusdin.
    kayaknya makin seru nih.
    Terima kasih buanyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: