WOW, 100 % !!

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin itu ungkapan yang paling mencerminkan situasi sekarang. Di saat mahasiswa mulai kehabisan cadangan uang mereka, keluar pengumuman bahwa tunjangan Ikatan Dinas (uang ID) naik. Sontak para mahasiswa STIS menyambut dengan hati yang berbunga-bunga. The dream come true, sesuatu yang diimpikan akhirnya terwujud.

Kenaikan uang ID sebenarnya bukan wacana yang baru-baru saja muncul. Sekitar bulan November yang lalu, desas-desus mengenai kenaikan uang ID yang semula Rp175.000,00 menjadi Rp 350.000,00 sudah mulai menyebar ke telinga-telinga sebagian mahasiswa STIS. Bahkan, di sebuah kelas, kelas IIB, ibu Rina Dwi Sulastri selaku dosen mata kuliah Ilmu Sosial Dasar telah mengatakan bahwa usulan tentang kenaikan uang ID telah diajukan kemudian disetujui sekitar bulan Desember tahun lalu. Jadi, kenaikan uang ID ini merupakan hal yang tidak asing lagi bagi sebagian mahasiswa.

Sebuah fenomena
Uang ID memang hanya beberapa lembar uang yang mungkin kalau digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mahasiswa, lebih-lebih di Jakarta, tidak akan cukup. Namun, di pandang dari sudut yang lain, uang ID lebih dari sekedar lembaran uang. Memang kita belum menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), tapi uang ID setidaknya dapat dijadikan penambah semangat belajar. Maklum, STIS bukanlah tempat mahasiswa yang berasal dari keluarga pejabat negara dan bukan mahasiswa dari kalangan borju (orang kaya). Sepanjang pengetahuan penulis, rata-rata mahasiswa STIS berasal dari kalangan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah.

Di STIS sendiri sudah sejak lama uang ID tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Dahulu, kenaikannya hanya beberapa ribu saja, belum pernah sampai sebesar seratus persen seperti saat ini. Namun perlu diketahui, uang ikatan dinas di STIS tergolong tinggi daripada PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) yang lain. Di sekolah tinggi kedinasan tertentu yang bertempat di Tangerang, uang ID hanya 40 ribu, itupun diperoleh mulai tingkat tiga. Bahkan beberapa PTK ada yang tidak memberikan uang ID bagi para mahasiswanya.

Terlepas dari itu semua kita harus menyadari bahwa fungsi uang ID itu untuk membantu kebutuhan hidup mahasiswa di PTK. Jadi, selaku mahasiwa PTK ada rasa tanggung jawab dari dalam diri masing-masing mahasiswa untuk lebih giat belajar dan mendedikasikan karirnya demi kemajuan perstatistikan di BPS, di Republik Indonesia dan di penjuru dunia.

Nah, hal ini merupakan wujud dari amanah yang harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana menyikapinya? Banyak reaksi yang timbul dari mahasiswa dari kenaikan uang ID tersebut. Tentunya sebagian besar mahasiswa akan senang dengan kenaikan uang ID tersebut. Bagi mahasiswa tingkat I hal ini dapat menjadi motivasi untuk belajar lebih baik agar terhindar dari DO, sehingga selanjutnya masih bisa menikmati uang ID dan jaminan pekerjaan sebagai PNS. Bagi mahasiswa tingkat II dan III kenaikan uang ID tersebut merupakan kabar gembira, dan kedepannya mungkin ada rencana-rencana tertentu untuk memanfaatkannya. Bagi mahasiswa tingkat IV, disamping gembira tetapi mungkin juga kecewa mengapa naiknya baru sekarang? Kok tidak dari dulu saja.? Selengkapnya, mari kita tengok pendapat dari rekan-rekan mahasiswa yang berhasil dihimpun tim redaksi.

Bagaimana pendapat sahabat STIS tentang kenaikan uang ID :

Dicky (19, IIB)
“Alhamdulillah, Aku seneng banget, karena bisa buat nambah tabungan dan bisa nambah semangat belajar OK.”

Adi (19, IIKS2)
“Ada segi positif dan ada segi negatifnya, yang pasti ada tujuan tersendiri dari institusi mengeluarkan keputusan kenaikan uang ID ini. Segala sesutau harus dipandang secara komprehensif (menyeluruh-red), bukan secara parsial. Harus ada tindakan-tindakan yang signifikan dalam menyikapi ini. Kita harus membuat skala prioritas kebutuhan-kebutuhan kita, mana yang harus segera kita penuhi dan mana yang harus kita tangguhkan. Dengan adanya kenaikan uang ID ini seharusnya dapat lebih menambah semangat kita untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik bagi kampus kita pada khususnya dan BPS pada umumnya, itu segi positifnya. Segi negatifnya menjadi bergaya hidup konsumtif dengan memikirkan keinginan-keinginan yang tidak atau belum perlu. Jadi kita harus menyikapinya secara bijaksana sehingga dapat memberikan efek yang positif bagi diri kita selaku mahasiswa STIS.”

Derik (19, IIKS2)
“Sebagai mahasiswa STIS saya cukup senang karena otomatis ada peningkatan kesejahteraan bagi mahasiswa itu sendiri. Tapi yang perlu diingat adalah uang itu tidak sepenuhnya berasal dari institusi, namun juga berasal dari rakyat, sehingga kita akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.”

Tamam (20, IIIKS1)
“Alhamdulillah, setelah naik menjadi 350 ribu, uang ID yang semula hanya menjadi tambahan, sekarang bisa menjadi sumber utama dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kini kita tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan keuangan dan bisa lebih konsentrasi dalam belajar.”

Bu Nucke W. (Dosen PA 2KS2)
“Saya pernah baca artikel mahasiswa yang bikin tulisan tentang uang ID tahun 2004 yang saat itu memperkirakan kenaikannya akan mencapai Rp400.000,00. Karenanya, Rp350.000,00 itu ideal. Bagiku gak usah menjadi beban. Yang harus ditanamkan adalah bahwa nilai yang membesar itu juga harus menambah semangat kalian untuk belajar!”

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on March 2, 2007.

5 Responses to “WOW, 100 % !!”

  1. artikel ni menurutku bagus juga. selain itu artikel-artikel yang lain bagus juga, tapi kenapa gak bisa dicopy jadi harus dibaca di warnet, ga bisa dibaca di rumah.
    terus berkreasi ya! buat artikel yang berguna bagi sesama.
    terima kasih

  2. excuse me… gak bisa dicopy gimana maxute??
    barusan qcoba bisa gitu, Rif!
    oia, aq tahu, pasti kamu lupa baca bismillah dulu..he3x..
    coba lagi deh..
    thanks, kamu kan juga ikutan ngeroyok bikin artikel itu.

    (eh, btw. ngerasa masih punya utang ga??? hi3x…)

  3. afwan mungkin aq kemarin yang g bisa. Untuk masalah yang satu itu ntar aq titipin aj ke tyo. matur nuwun ampun ngingetke.
    terus smangat ya.

  4. sudah bagus tulisannya. kamu sudah berhasil meggoda pembaca memasuki alam fikirmu.aku tertarik dibagian awal. dan memang seperti itulah semestinya. tulisan harus dimulai dengan pembuka yang “menyihir”.

    namun, satu catatan untuk menambah ketajaman tulisanmu. apa gerangan? mau tahu? hehe…

  5. mau tahu?
    mau donk !!!
    adhek ini belum bisa nulis apa-apa, Mas.
    Kebetulan sekali klo Mas bagi-bagi “kesaktiannya”
    iA berguna juga buat para pengunjung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: