High Risk

“Ga papa, kok! Ga papa!!” Beberapa kali memang itu yang kugumamkan dalam hati. Sekedar untuk mengobati sedikiiiit keluh kesah. Cuman sedikit lho ya… Ingat, sekali lagi, cuma sediikiiit. Aku cukup puas menghabiskan waktu soreku di balkon atas masjid bercengkerama dengan anak-anak kecil yang mayoritas belum lulus SD. Mereka yang asyik men-dlosor-kan kaki mungilnya(berselunjur) di bawah “dlabag” (meja kecil untuk membaca Al-Qur’an).

“Suer, ga papa kok.” Toh, aku jadi punya waktu untuk merebahkan mataku yang jarang sekali ketemu dengan yang namanya tidur. “Lagi pula aku masih tetap dianggap sebagai keluarga besar perusahaan kita kan!? Jadi sewaktu-waktu kalian membutuhkan, insya Allah aku masih bisa membantu sejauh wewenang sebagai anggota dewan penasehat saja,” ujarku kepada rekan-rekan di bagian marketing sebuah perusahaan tempatku bekerja beberapa bulan ini. Yup, mereka memang heran atas “pensiun dini” yang diberlakukan pada beberapa “pegawai” minggu lalu, terutama padaku. Tentu saja, bagaimana ga heran. Dari 10 personil yang dibebastugaskan, 9 diantaranya adalah para manager yang masih cukup logis untuk diganti jika berdasarkan alasan regenerasi. Tapi, aku adalah satu-satunya pegawai, cuma staff pula, yang baruu saja ditempatkan. “Pasti ada yang ga beres!!” itu komentar yang bergema.

“Walah, ga usah dibesar-besarin. Ini dah resiko dalam bisnis, kan Phrend! Lagi pula aku masih punya banyak kesempatan untuk melanglang buana menimba pengalaman di wahana lain. Umur juga masih belum kepala dua, ini!! He..he..” berkali-kali aku coba yakinkan, rekan-rekan seperjuanganku atas keheranan mereka. Ingat lho ya, keluh kesah yang kurasa cuma diikiiit, coz keuntungan yang aku dan top manager perusahan dapatkan, jauh lebih besar dari kerugian yang kuterima akibat PHK sepihak dari direksi perusahaan. Maklum, track recordku mungkin memang dianggap berbahaya bagi kelangsungan perusahaan bila aku terus berada di sana.

“Ah,,males ah,,sudah kubilang ini bagian dari skenarioku dengan para top manager. Justru kami memang ingin melihat reaksi dari direksi perusahaan setelah tahu bahwa salah satu staffnya ini orang yang anti-kapitalis. Manuver direksi yang sebegini vulgar akan semakin membuka kedok dan ketakutan mereka atas berkembangnya kesadaran para staff untuk menentang kebijakan perusahaan tempatku bekerja yang makin kapitalis.”
ungkapku sedikit bangga menjadi new comer tapi dah diincar perusahaan…huehee..hee.. most wanted person of the year..(keren gak!!??)

Tuh, kan. bisnis aja punya high risk. Apalagi perjuangan melawan kapitalis.-Eh, ga perlu prolog kan untuk sekedar bilang kalo aku emang orang yang anti-kapitalis…-(he…bilang aja males nulis). Gini-gini, aku masih punya jati diri lho.(sombong amat sih!!) Yah, walaupun di sela-sela kuliah, jarang ngerjain pe-er, catetan ga pernah beres, tugas sering ndadak… trus pernah kena her pula.(eh, aku dah bilang kan klo aku juga masih kuliah). Tapi kebiasaan2 buruk itu jangan kalian tiru. Ga bener!!! Kata Mak Erot, emang no body’s perfect. Bukan berarti aku ga ada perfect2-nya, gitu… Tapi, klo dah tau klo masing-masing kita emang ga sempurna, trus apakah ketidakmauan atau ketidakberanian kita untuk “mengingatkan” orang lain berarti menjadi suatu kebolehan. Artinya, kalo diri kita emang lemah, apakah artinya ga boleh “mengingatkan” orang lain supaya menjadi lebih kuat?? Permakluman terhadap orang-orang yang lebih memilih “diam” karena menganggap dirinya sendiri masih lemah, justru akan membentuk kelemahan secara sistematis dalam populasi itu (gubrax!!). Instropeksi emang kudu. Tapi bukan berarti harus nunggu kita fully-perfect dulu baru boleh “bicara” untuk orang lain??? Wah, klo gitu, berarti orang-orang yang sudah capek-capek berkoar demi menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kebiadaban sudah pasti-mesti-fully-perfect-significantly (byuh, bener ga sih bahasanya)? Padahal ga selamanya gitu, kan ya? Tiap orang pasti punya sisi lemah atau pernah berada pada posisi yang lemah. Klo nunggu kita jadi kuat dulu seratus persen, baru boleh ngingetin yang lain, wahh…bakal nunggu-nunggu terus…. Nah, kapan bisa bergerak dan menggerakkan orang lain. Di lain sisi, kita ga pernah tau pasti kan, kapan tiba saatnya kita dah seratus persen kuat? Jangan-jangan kita over-estimate padahal masih banyak perkara yang belum kita kuasai.
Pe-de amat yacks?? MAKANYA, kita ada untuk saling menguatkan. lemah n kuat itu pasti datang silih berganti. Pas datang sisi lemahku, kaulah frend yang menguatkan. Saat tiba waktu lengahmu, aku akan waspada menjagamu. Itu baru perfect. Kata Mak Erot, sich…

Trus apa hubungannya Mak Erot ama high risk. (emang Mak Erot tuh sapa sih?). Lho, ya ada donk. Mak Erot itu berani mengambil resiko yang besar untuk menatap masa senjanya. Dulu emang sih pernah kepincut pingin operasi plastik atau ikut treatment2 supaya awet muda. Tapi toh, umur ga akan pernah bisa istirahat berjalan walau sedetik pun. Klo Mak Erot aja berani, apalagi kita2 yang masih muda ini. Kupikir tiap jalan hidup emang ada risk yang harus dihadapi kok. Dipecat dari tempatku bekerja (yang nyatanya ga seideologi denganku) cuma salah satu dari sekian banyak risk yang nantinya emang bakal kuhadapi. Apa itu berarti jalan hidup yang kutempuh salah, karena terasa ga enak n menyengsarakan?? Itu kan keliatannya…sesungguhnya, di balik tiap derita n cobaan ada hikmah n reward kann…..Asal kita yakin bahwa kita ada untuk memperjuangkan kebenaran yang haqiqi.

Aku cukup puas dengan keadaanku sekarang. Walau belum bener-bener puas sih. Coz, paling gatel bener, liat temen2 ku yang ga pernah care sama keadaan. Terutama keadaan saudaranya yang satu ini yang sering dililit masalah finansial…fyuh…jarang sekali ada yang tiba-tiba ngasih makanan buat sarapanku yang sering ketinggalan, atau tiba-tiba ngajak ke kantin traktiran makan siang yang sering kelupaan. Apalagi trus ada yang ngajak dinner di luar, yang jarang kurasakan. Walah.. ga usah hiperbolis gitu dech.. Kalo care sama hal-hal “cemen” macam itu sih aku ga peduli (Sorry agak emosi). Coz emang buuanyak mereka yang sempet waktu, sempet tenaga, sempet pikiran, and sempet uang untuk care satu sama lain dalam berbagi kebahagiaan seperti itu. Paling parah, mayoritas dari mereka itu justru anak muda !!! Waktu mereka habis di mall, bioskop, n restaurat karena kebingungan ngisi waktu luang setelah pulang kuliah atau saat kuliah libur tapi ga bisa pulang kampung. Uang mereka habis and mengalir ke kantong orang-orang kapitalis yang menjejerkan hedonisme yang begitu menggiurkan. Eh, salah ! itu bukan uang mereka sendiri, ding!! itu uang ibuk bapak mereka yang banting tulang di kampung halaman sambil membayangkan anaknya akan pulang menjadi orang sukses, bagian dari generasi unggulan di masa depan, dan menjadi penerus estafet kepemimpinan dunia atas degradasi peradaban manusia yang membutuhkan sentuhan orang-orang mulia. Sayang, impian ibuk bapak itu dikhianati dengan kasat mata!!!

Sorry lah yau…! Aku berani bilang kalo anak-anak muda yang kayak begitu sebenarnya adalah mereka yang ga mau ngambil high risk dari perjuangan kehidupan yang cepat atau lambat niscaya mereka hadapi. Kayak si Peter Pan yang pengen terus hidup sebagai anak-anak tanpa menyadari tanggung jawab sebagai seseorang yang memang sudah waktunya untuk menjadi DEWASA. Masalahnya, keputusan untuk berpikir pendek tentang makna kehidupan seringkali dipilih oleh anak-anak muda yang jarang aware dengan situasi (hue..he..he.. kalimat andalanku akhirnya keluar juga). Emang, kenapa harus aware??? Orang yang ga aware itu sebenarnya banci!! (hyuks,,,emosi nih). Mereka sengaja menafikkan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa di sekelilingnya. Berusaha menutup mata, hidung, telinga, kepala (pundak, lutut-kaki, lutut-kaki. Lho, kok jadi senam). Menjauhkan interkoneksi hati dan pikiran dengan indera yang menyerap segala peristiwa di luar dirinya. Padahal, anak muda jaman sekarang itu punya interface yang super komplit dengan dunia luar. Sayangnya segala informasi itu g pernah mau diolah dan sekadar lewat n tertimbun di antara file-file yang tak pernah lagi terbaca. Apa lagi klo bukan banci?? Cuma banci yang penakut. takut atas kondrat dan konsekuensinya sebagai truly pejantan atau truly betina. Takut atas high risk yang memang harus ditempuh saat sebuah perjuangan atas eksistensinya sebagai manusia menemui karang penghalang, atau kerikil di tengah gelombang pasang (lho, jadi ga keliatan dwonk). Padahal, kalo kita berpikir lebih dalam, sebenarnya resiko yang mereka ambil dengan menjadi banci atau penakut jauuh lebih besar. Tapi, aku ga menganggap itu sebagai high risk. Karena high risk yang sejati, adalah risk yang emang high atas value n reward yang high. Klo resiko tinggi yang diperoleh dari malpraktek akibat operasi kelamin, itu sih “stupid risk” alias nggilani (jawa: jijay bajay).

Ah, terserah, deh..apalah. Ngoceh-ngoceh gini juga ga akan bisa bikin anak-anak muda yang mati di semanggi atau anak-anak muda yang terbantai di sampit, poso, ambon dan tanah merah lain akan bangkit dari kubur. (Klo mereka bisa bangkit dari kubur, mereka pasti dah gemes pingin ngejar-ngejar kalian. Menuntut balas atas perjuangan yang tidak diteruskan. kalian pasti lebih cepat tertangkap dari pada dikejar suster ngesot). Ngoceh-ngoceh gini juga ga akan bikin presiden kita serta merta melepaskan negeri kita dari belenggu kapitalisme. (walaupun masih mungkin itu bisa terjadi. Masih mungkin !! someday, i promise!!!). Tapi aku cukup puas bisa ngoceh di depan kalian yang masih merasa nyaman dipelokotho (dipermainkan) keadaan. –Buat yang dah nggak dipelokotho, selamat ya, you guys!!—

Yang jelas, ocehanku jangan dimasukin ke hati klo hati kalian masih tertutup. Gak ada guna. Coz pertama, kalian harus buka dulu tuh ente punya mata hati. Baru pikir lagi ocehan-ocehanku. Tapi jangan lama-lama. Coz masih banyuuak sodara-sodara kita yang seharusnya bisa hidup tenang seperti kita, tapi sampe sekarang masih bergelimang ketakutan atas intimidasi agen-agen kapitalisme. Lihat tuh, ambon, poso, kalimantan bagian utara. Belum lagi, irak, afghanistan, palestina, dan serentetan daerah panas lain. Fyuhhh, berat ya?? Tapi kan kita anak muda… High risk tuh dah pasti. Bukannya jiwa muda itu adalah darah yang paling bergelora??? Mana??

Buktikan merahmu!! Jangan sampai kalo anak-anak SD yang lagi rewel di depanku ini suatu saat bertanya tentang generasi kita, lalu kita tidak bisa menjawab apa-apa. Lebih parah lagi, kalo suatu hari, saat matahari tak lagi terbit seperti biasanya, malaikat meminta LPJ atas kepemimpinan kita di dunia…

Ah, tapi maafkan aku, karena saat itu tiba, aku tak bisa menolongmu, sobat. Seperti halnya, kau pun tak bisa membantuku…sayang…

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on June 8, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: