Kartu Suporter

Hari ini pertama kali kartu suporterku terisi.
whe..he..he.. temen2 stis pasti tau maxutnya.
se-pagi-an di GOR sama temen2 2ks2 yang gila abiss…
dasar, doyan banget sama foto2

justru acara intinya malah pas foto keluarga
bukan pas pertandingannya maen

setidaknya aku jadi makin yakin, bahwa orang2 seusia kita emang sudah dibebaskan untuk memilih
ga ada lagi yang bisa maksa. semaksa apapun kondisi, situasi, atau subyek pemaksanya.
seusia kita sudah bisa menentukan keputusan, mengambil sikap, dan -sekali lagi- bebas memilih.

Seee-terpaksa apapun ikut jadi suporter di pekan olah raga kampus, temen2 nyatanya bisa memilih untuk nglakuin apa aja.
walau kedatangan di tiap pertandingan suatu kewajiban yang terasa menjadi paksaan -bagi sebagian orang- tentunya pede2 aja kita memilih mau ngapain aja pas pertandingan dimulai.
dan pastinya itu karena pemaksaan memang tidak akan mungkin terjadi hingga ke level –hati– !!!

Ga mungkin kan klo kita sampe dipaksa harus tetap duduk di tribun, ga boleh ke kamar kecil, ga boleh keluar lapangan buat beli makanan, atao sejenisnya. Ga mungkin juga kalo kita dipaksa duduk liat pertandingan, trus harus nyorak2i yang maen, harus tepuk2 tangan, harus heboh-seheboh2nya.

So, walaupun aku ada diantara temen2ku yang lagi nonton pertandingan, ga mungkin aku dipaksa melempar pandangan ke arah lapangan dan melipat majalah “OpenMind” yang lagi hangat di tanganku.

Aku cuma tertawa dalam hati….
“Ibu….sudahlah…
apa ga cape???
Kalau berangkat dari suatu ‘pemaksaan’
pasti hasilnya pun suatu ‘keterpaksaan’
tidak akan ada ketulusan di sana
karena sudah diawali dari kekang yang erat
suatu kendali yang sengaja diciptakan
agar seolah-olah semuanya tunduk patuh

kegembiraan yang ada
hanyanya suatu simbol
yang lahir dari ironi di masing2 hati
yang kemudian sama2 saling menertawakan kondisi

kami bukanlah anak2 kecil
yang mudah dipermainkan
kami juga punya naluri, mata hati, dan fikiran.

mulai dari seusia kami,
engkau tak lagi berhak memutuskan
karena kami telah dibebankan tanggung jawab
untuk memilih
bukan atas dasar keterpaksaan”

alert :

salut berat buat salah satu dosenku yang nolak ikut tanding badminton
entah kenapa…
tapi aku merasakan aura yang dahsyat di atas segala penolakan beliau
Hidup Mr. Pusya !!!!!

andai aku pun bisa begitu,
andai aku bisa melakukan lebih dari itu….
i hope….

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on June 15, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: