Bersama Bintang

– Drive

senja kini berganti malam
menutup hari yg lelah
dimanakah engkau berada
aku tak tahu dimana

pernah kita lalui semua
jerit, tangis, canda, tawa
kini hanya untaian kata
hanya itulah yg aku punya

reff:
tidurlah selamat malam
lupakan sajalah aku
mimpilah dalam tidurmu
bersama bintang

sesungguhnya aku tak bisa
jalani waktu tanpamu
perpisahan bukanlah duka
meski harus menyisakan luka

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on September 7, 2007.

5 Responses to “Bersama Bintang”

  1. aq beberapa kali memaksa,
    hanya pada situasi genting,
    yang segera butuh penyelesaian saat itu juga.

    tapi untuk urusan long term,
    aku tidak pernah memaksa.
    sekali lagi, tidak pernah.
    karena benar-benar aku tak ingin terburu-buru.
    tak ingin semua menjadi suatu keterlanjuran.
    terjungkal ke jurang terdalam,
    dari ketinggian yang teramat sangat.
    …membayangkannya saja ngeri… .

    apapun yang mereka ketahui,
    itu murni kegigihan mereka sendiri untuk belajar menyayangi.
    murni, tanpa hasutan !
    bahkan aku dituduh selalu berusaha menyembunyikan.

    kini,
    entah seberapa terlanjur…,
    tapi aku sama sekali tak ingin memaksakan keadaan.
    hingga keputusan selalu berujung dengan … diam,
    membiarkan keajaiban yang menjawabnya.

  2. telanjur, bukan terlanjur. itu yang sekarang dianggap baku oleh pemerintah. tapi kan, al-lughah al-fahm ya? (ngerti ora, son? he he). jadi terserah deh mau baku atau nggak baku. kali ini aku akan menahan diri untuk tidak mencereweti tulisan orang. peace! 🙂

  3. kadang2 memang diri kita butuh paksaan, butuh tekanan. karena pada fitrahnya hidup ini memerlukan banyak pencerahan. dan pencerahan-pencerahan itu kita dapatkan melalui paksaan. tentunya, paksaan yang bersifat membangun dirimu.
    sama halnya dengan saya. belajar, bekerja, bahkan menulis perlu adanya paksaan. proses paksa memaksa itu melalui internal dalam diri. saya menyebutnya menginternalisasi diri. terkadang saya membiasakan membangkitkan semangat dengan memarahi diri sendiri, saat itu juga semangat saya pun kembali terbakar. cara2 itu sampai sekarang tetap jitu mempercepat kepuasan diri merengkuh kebaikan dari detik demi detik.

  4. oh, iya ya..
    gitu ya ternyata….
    memang dalam kondisi under-presure, orang biasanya bisa memberikan hasil yg optimal.
    cuma, saya ga yakin itu juga berlaku dalam kondisi “paksaan” di atas.
    mungkin beda kasus, Mas.

    tapi, saya jadi dapat pencerahan juga dari Mas, tentang makna paksaan itu.
    makacih y…makin semangat nich.

  5. Adikku, kaka pikir, apa yang adik katakan memang ada benarnya. tidaklah mungkin kita bertahan dalam kondisi paksaan. hal itulah yang menjadi isnpirasai kaka menuliskan sebuah buku lagi. doakan ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: