dihibur ayam semesta

Kamar G, 6 Agustus 2006

Batu, dinding, dan dedaunan
menertawakanku…
Menertawakan kebodohanku.
Seharusnya aku menyadarinya dari awal,
sejak aku merasakannya.

Semula…
aku menganggapnya sebagai suatu keajaiban.
Tak lama…
Kurasakan kekhawatiran akan suatu keterlanjuran.
Namun ternyata lebih dari itu,
kau memiliki diksi yang lebih tepat,
untuk menggambarkan dengan begitu sempurna
tentang apa yang selama ini terjadi…
“RESIKO”.
Resiko atas sebuah jalan yang kadang terbukti efektif.

Selama ini memang aku yang diselubungi kebodohan luar biasa.
Satu kali lagi, kurasakan…
katak-tempurung-bau terjepit dalam angan dan impiannya sendiri.
Aku sadar, selama ini aku belum berhasil keluar dari imajinasiku.
Dan akhirnya, dunia kembali menertawai ketololanku.

duh..

Begitu bodohnya aku hingga tak mampu
mencerna kata-katamu yang demikian sederhana.
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri,
hingga kesulitan menerjemahkan
pesan-pesanmu yang sebenarnya begitu lugas dan jelas.

Tentu saja,
siapa pun bisa menjadi aku
yang dengan mudah melarikan diri dari kelasnya
sekedar untuk berbincang-bincang di sudut sekolah.
dan siapa pun itu,
tentu yang terjadi akan sama saja.

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on September 10, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: