Rantai Kebohongan (1) : “cerita sepotong2”

Kamar G, 8 Agustus 2006
Subject: Re: anggap saja salah kirim

Sy rasakan situasinya kian meruncing. Kali ini smp bener2 telah MEMAKSA sy untuk menjelaskan kronologisnya…

***

Selama uas dan beberapa minggu sebelumnya, energi sya bener2 terforsir, karena dosen2 kompak ngasih tugas mepet dg uas, persiapan ujian serta PMB yang ternyata begitu menyita waktu dan perhatian.

Rabu, 26 Juli 2006
Hari terakhir UAS. Puncak ketegangan ujian. Ujian terakhir itu berhasil membuat sya tegang lahir bathin. Akibatnya “kontraksi di oviduct” kembali menyerang mengiringi diare yang sdh hadir duluan malam sebelumnya. Jauh lebih menyiksa ketimbang UAS bhs inggris tahun lalu.
Selesai ujian, sy segera pulang dan makan siang cepat2, karena beberapa hari sebelumnya sy sudah janji pd seorang temn, Ika namanya, akan mengantarkannya hari ini ke UI Depok untuk mengikuti ujian masuk salah satu perguruan tinggi Jepang. Kbetulan tempatnya sama dengan salah satu training yang pernh sy ikuti dsna.

Dalam perjalanan di KRL yang penuh sesak, kondisi sy dah much better setelah makan siang, walau masih pusing bgt. Sengaja sy mengajak seorang teman lagi karena perkiraan sy, kalau ujiannya nanti sampai sore, sya akan pulang duluan karena les bhs arab dimulai jam setengah tujuh malam. Waktu ada satu kursi yang ditinggal turun penumpang, sy minta Ika saja yang duduk, karena dia lebih membutuhkan ketenangan fisik n mental saat itu. Apalagi sebelumnya dia sempat putus asa dan melinangkan air matanya di pelukan saya, karena KRL tujuan Depok sempat terlambat cukup lama. Konsekuensinya, setiba di Depok kami harus lari cepat mengingat waktu ujian sebentar lagi dimulai. Sungguh, sy kira waktu itu, hentakan keras kaki2 kami di atas bumi telah berpindah di kepala saya dan meninggalkan debuman yang cukup membuat sy mengerutkan kening.

Untunglah ujian blm dimulai setiba kami dsna. Kami blm terlambat. Tak berapa lama, orang2 Konjen Kedubes Jepang datang dan mempersiapkan para peserta. Setelah dia masuk, tinggal saya dan Eni menunggu di mushola tepat di depan gedung tempat Ika ujian. Sepanjang waktu itu sy manfaatkan untuk istirahat sepuasnya. Eni memaksa sy untuk tidur saja, tapi tidak sedetik pun sy berhasil memejamkan mata.

To make it short, ujian selesai dan kami pulang setelah mereka sholat ashar. Untunglah sore2 spt ini, KRL tujuan Jakarta Kota ga rame. Kami pun mendapat tempat duduk masing2. entah kenapa, justru dsni saya tertidur begitu saja, tepat bersebelahan dengan Ika. Begitu bangun, sy blm sadar sudah smpai mana KRL ini melaju. Tahu2, kami sudah tertinggal 1 stasiun dmana seharusnya kami turun. Yach, sudah dech, terpaksa turun di Manggarai. Kami cuma tinggal berharap nggak kesasar sampe mlm.

Di stasiun berikutnya kami turun. Setelah tanya sini situ, akhirnya kami dapatkan metromini yang bisa mengantar kami pulang, walau artinya nambah satu kali oper lagi. Lagi2 disni sy tertidur, padahal rasanya pak sopir itu bawa metromini malah kayak maen rodeo.
Sampai rumah dah malam, tapi masih sempat buat mereka sholat maghrib. Sy pikir setelah makan malam ini, sy seger lagi dan bisa brangkat les walau terlambat. Tapi kepala ini tak bisa diajak kompromi. Berakhirlah malam itu sy tidur dengan demam dan kepala yang buerat sampai pagi.

Kamis, 27 Juli 2006
paginya demam dah cukup turun. Tapi flu n sakit kepala masih bersarang. Sengaja kamar sy kunci, sekedar tidak membuat Ika makin merasa bersalah. Dengan istirahat total, insya Allah segera sembuh. Sy cuma pengen cepet sembuh, karena bsok pertemuan pertama beljar dengan mb Nia.

Jum’at, 28 Juli 2006
Demam ilang, tinggal flunya. Sengaja ga jadi pake jaket, toh kontrakan mb Nia hanya berjarak 3 rumah dari kosku. Waktu sampai di kontrakan mb Nia, temen bljr sy blm datang. Memang sy berangkat lebih awal dr jadwal untuk ngobrol sesuatu. Ternyata mb Nia tau kalo kemarin sy ga msk les krn sakit. Demi tak merisaukan hatinya, sy bilang sj “mungkin karena kecapean, mb. Kemarin habis dr depok pek malm”. Tak berapa lama ada pesan dr temen bljar itu bahwa dia nyasar. Tentu saja akhirnya saya yang keluar ke halte dpan kampus untuk menjemputny. Lagipula sy pikir, matahari pagi akan menghilangkan rasa dingin.

Setelah setengah jam “ngenthang” di halte, akhirnya dia muncul juga. Akhirnya kami kembali ke t4 mb nia. Tapi matahari saat itu terlalu terik dan angin kendaraan sepanjang penantian di halte rupanya membuat kepala ini kembali berputar. Jadinya, sewaktu pulang, gantian mb nia yang ngantar temen itu ke jalan raya kembali. Sedangkan sy langsung menuju rumah dan berbaring lagi.

Sorenya, Esti, seorang teman seprjuangan, datang menjenguk dan menemani makan. Sebenarnya Esti dah maksa untuk pergi ke dokter. Tapi dia berhasil sy yakinkan, bahwa sebisa mungkin sy menghindari konsumsi obat. “ngombe jamu wae iso kok, Ti! Sesuk i.A. nyang pasar golek empon2. Kunir kanggo antibiotik, ngilangi virus karo demam. Diterusno kencur kanggo mulihno stamina. Terakhir, jahe, ben watuke ilang.” Esti kan orang Sukoharjo, jadi jawabnya “Yo wis lah, aku rak mekso.”

Setelah dia pulang, sy tertidur lagi n ga sempat makan pek malam. Mungkin karena itu, tengah malam demam datang lagi n terrible-flu-yang-sebenarnya baru menyerang. Berarti kemarin itu baru mukadimahnya, yang ini nich baru “tepar” beneran.

Sabtu, 29 Juli 2006 – Kamis, 3 Agustus 2006
Sabtunya, seorang teman datang. Sebenarnya dia ga tahu klo sy skit, coz dia ke t4 sy mau ngomong ttg kompetisi internal debat bhs inggris di kampus, kebetulan dia satu tim dg sy. Apa mau dikata, setelah tau sy skit, tim kami pun tak bisa ikut. Bgmn bisa ngomong, apalagi debat, lha wong nelen makanan aja sakit plus batuk2 kayak nenek2. Tak lama, ternyata Esti datang dg mb Nia. Tebak apa yang dibawanya. Yup, empon2 yang kubutuhkan. Subhanallah, smg Allah senantiasa merahmati keduany ats kebaikan mrk slm ini. Kami ga sempat ngobrol, karena mrk hrs balik ke pasr lagi untk cari sarapan.

Akhirnya sampai hari Kamis, sy total dirumahkan (mungkin lebih tepatnya merumahkan diri). Karena waktu itu saya pikir klo flu biasa sy yakin bisa sembuh dg kunir, alias kunyit. Karena itu, treatment empon2 terus digencarkan.

Jum’at, 4 Agustus 2006
Belakangan sy br nyadar kenapa tenggorokan ga kunjung beres. Yup, ISPA sy kambuh, sama seperti yang dulu sampe 3 bulan batuk, n sempat terulang pasca magradika. Berarti sy harus lebih sabar dan siap2 klo sembuhnya bakal lama. Tahu sendiri kan betapa awetnya batuk ini. Makanya, bebrp hari terakhir ini sy ga berani keluar rumah dulu, keluar kamar aja waktu makan n ke kmr mndi.

Hari ini jadwal belajar lagi, plus siang nanti aksi longmarch dari istana ke dpn kedubes Amerika-Sialan (maaf, gampang emosi). Di akhir belajar mb Nia tanya, “Yakin dah kuat ikut? Ntar jalan lho..”. Bgmn mungkin sy akan mlewatkan moment ini? Jadi sebisa mungkin kuyakinkan mb Nia, “Woo..ya iya dunks, mb! Cuma masuk angin biasa, bentar juga ilang ! Aku kan ahlinya..” Yup, sy memang tukang pijet spesialis ngusir masuk angin. Siapa lagi yg mijitin mb Nia waktu dia msuk angin klo bkn adhekny ini..cie..narsis !

Kami pun berangkat. Dsna sy ktemu dg salah satu teman les bhs arab, mb Nurin. Dialah satu-satunya yang tau bahwa di dada ini menyimpan ISPA. Ya, karena dia juga mengidap penyakit yang sama bahkan dalam stadium yang lebih berat. Mb Nurin sempat kaget liat sy dsna, karena selama ini dia tau klo sy bolos les bhs arab gara2 “batuk magradika” (itu istilah dariny untuk batukku). “he…he..hallo mbak! Bandel dikit gpp kan?” sengaja sy sedikit merengek supaya dia tidak mulai “ceramah” panjang lebar. “Emang dah sembuh bener?” tanyanya menyelidiki persiapan sy. “Nih, aku dah bawa minum, bahkan 2 botol..jangan khwatir deh. Dijamin aman”.
Persis seperti dugaan sy sebelumnya, malam hari sepulang aksi, batuk itu menjadi2. seorang temen kos yang juga jago pijit, langsung menggempur badan saya. Alhamdulillah, akhirnya bisa tidur pulas setelah menghabiskan hampir setengah botol minyak kayu putih.

Sabtu, 5 Agustus 2006
Pedhe joyo !! Merasa sudah baikan, sy langsung melunaskan hutang piket bersih2 rumah n cucian yang ditimbun semingguan itu. Memang menurut sy fluny dah ilang, murni tinggal batuk. Jadi, berdasrkn pengalaman, kerja apa aja neva mind. Asal istirahat cukup, ga terlalu capegh, ga kena angin langsung n be ready with cajuput oil when cough attack.

Mungkin karena seharian ini “maruk” tandang gawe, jadinya batuk lagi, malam pek pagi. Tapi sy pikir ini wjar coz sekitar jam 3-5 pagi emang jadwalny de toxin di paru2, sehingga akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini (ngutip artikel dari sapa ya?). Tau kan klo lagi kambuh gmn. Hidung jadi pilek, pusink, mual, trus setelah muntah, lega deh. Saking kencengny, perut sampe “njarem” alias tegang.

Minggu, 6 Agustus 2006 – Senin, 7 Agustus 2006
Waktu bangun, ada sms masuk. Isinya sebuah permintaan untuk cek email. TERPAKSA sy bilang skit, SEKEDAR kasih alasan logis krn blm bs ngenet dlm wktu dekat. Walau itu sebenarnya adalah sebuah KEBOHONGAN. Alasan paling logis agar tidak dituntut memaparkan komentar atas email yang sudah saya baca semalam. Agar saya bisa lebih menikmati rasa sakit jasmani dan berusaha tak menghiraukan pedih perihnya sakit dalam hati. Berat beban yang menghujam bersama email yang sy bawa pulang semalam mendorong saya untuk mmohon padaNYA : “Andai bisa memilih, sy ikhlas ya Allah, Engkau uji dengan sakit bertubi-tubi. Asal Kau cabut duka di hati karena beribu prasangka dan risau yang tak pasti.“

Trus hp sy low bat. Berhubung charger sy lagi bermasalah, sy bermaxut pinjem charger k kmar Tiwi di sebelah kamar sy. (Dia jg lagi sakit, kecapekan setlah naek gunung Gede Pangrango. Karena pinter masak n ngemong bocah, sejak awal kami memanggilnya “Mami”) tp sy tidak brhasil menemukn chargerny n tnp sadar sy meninggalkan hp di atas meja. Akhirnya sy ngungsi ke kamar sang tukang pijit itu. Yup, sy dipijiti lagi pek batuk reda n tidur dsna. Dialah dokter sy.
Waktu bangun (lagi), sy ingat hp. Ternyata hp sy mati, mungkin low bat waktu ada telp masuk berkali2. Sy nyalakan sbentar, skedar liat isiny, n balas sebuah sms secepatny sblm low bat lagi. Benar saja, setelah message sent, hp pun mati lagi.

Sy cari Mami, ternyata lagi mandi. Sy pun turun makan di lantai 1. selesainya, kembali ke kamar sy (kamar G) n lupa mo pinjam chrger. Trus tiduur lagi. Kembali sy istirahat seharian, begitu pula hp. Selanjutny, tau sendiri deh. Getting better, trus baikan. Kali ini saya lebih merasakan syukur nikmat atas sakit badan, daripada sakit yang lain.

Selasa, 8 Agustus 2006
Dah bener2 sehat n bisa ikut kuliah umum di kampus. Waktu itu mb Nia duduk di sebelah sy. Di sela2 kuliah itu, mb Nia menceritakan smuanya. Sy hanya bisa menggema dalam batin “Andai smp tau apa yang terjadi kemarin disini…”, tanpa bisa menjawab apapun atas pertanyaan2 mb Nia ttg smp, kecuali “eee.., seorang… temen dari Malang,mbak.”

***

smg dg begini smp bisa mulai mengerti dan memaafkan sy.
Matur nuwun.

(to b continued)

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on September 10, 2007.

4 Responses to “Rantai Kebohongan (1) : “cerita sepotong2””

  1. ceritanya asyik banget. aku sampai terharu. dadaku berdentum, dan aku tersenyum puas. waduh bagus! kisah antum sungguh mengikat seribu satu makna hidup. saya menyebutnya: University Of Life (ini judul buku saya, insya Allah akan terbit)

  2. wah, aku jadi curiga sama Mas Rusdin.
    gimana Mas bisa ngerti cerita di atas?
    padahal kan aku nulisnya dalam konteks yang benar2 sulit dimengerti, kecuali oleh satu orang saja.

    di sana banyak bertebaran sandi-sandi, konteks-konteks lokal, bahasa daerah, singkatan yang ga jelas, klimaks yang aneh, penyelesaian yang mengambang, dll.

    kok bisa ngerti sih????

  3. adikku, silahkan banca: http://rusdin.wordpress.com

  4. q g ngerti apakah apa yg ada dalam pikiranq bener2 seperti kejadian yang sebenernya…tp mngkn dengan adanya cerita ini maka akan terus ada asumsi…hohoho

    =============

    ceritanya sih persis seperti yang terjadi, tapi konteks, bahasa, simbol, semuanya memang sengaja disamarkan. So, silahkan berasumsi sampai kita ketemu lagi…huaahaa..haa… (Ups !)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: