Gelisah merayap pergi…

Gelisah itu mungkin wajar menyapa di saat-saat seperti ini. Sebentuk kekhawatiran akan akhir dari kisah yang ditapaki dengan sunyi. Sejejak demi sejejak makin meninggi. Mempertajam keresahan karena bisikan-bisikan yang memekakkan telinga. Kalau sudah begini, aku hanya mampu diam.

Kekhawatiran pada kemampuan diri sendiri, dibayangi prasangka yang tak perlu sama sekali. Mampukah aku menjadi seperti yang dia minta? Bagaimana dengan mereka? seperti apa yang mereka minta? Lalu bagaimana dengan mereka-yang lain? belum mereka, apalagi mereka, mereka, mereka, dan mereka…?

Bukankah menikah itu tak sekedar menjadi seorang istri?
Ia juga menjadi seorang menantu, cucu, adik ipar, kakak ipar, sepupu ipar…
Terlebih nanti menjadi seorang ibu, bibi, nenek,…

Ahh…seenaknya saja para wedding organizer itu menggelar rapat koordinasi di mana-mana, dengan siapa saja, kapan saja. Bahkan hampir tiap saat, terutama menjelang malam. Pake loudspeaker lagi. Siapa bisa tahan? Kalau sudah begini, aku hanya mampu diam. Syukur-syukur kalau bisa mundur teratur, lalu kabur menyelamatkan diri. Selebihnya, aku hanya bisa sembunyi di balik almari, tempat sajadah terbentang rapi.

Tapi, di suatu sujud terdalamku, aku malah menemukan puncak kekhawatiran di sela-sela ilalang.
Khawatir lepas dari pelukan kasih dan rahmatNya. Bahkan di saat-saat yang paling membahagiakan, saat yang membuatku tersungkur dan dihujani ribuan syukur, dihadapanNya.
Aku juga menemukan hantaman ketakutan di balik bintang gemintang. Takut jika ternyata aku mempersiapkan diri hanya untuk menjadi seorang pendamping hidup terbaik. Takut jika ini kulakukan bukan untukNya, menjadi pemujaNya, sepanjang hidup, sepanjang mati. Padahal urutan Naskah hanya ada padaNya, telah sempurna tertuliskan dengan tinta dan pena terbaik, jauh sebelum ketakutan ini ada.

Rabbi, maka biarkanlah sajadahku basah sebagai diary padaMu yang paling sabar mendengar dan saputangan dariMu yang paling lembut menyeka.

Rabbi, ijinkanlah jari jemariku menyentuh menggapai langit kuasaMu agar sedikit kuraih ketegaran, menata kembali tegaknya niat padaMu, mengikhlaskan onak dan duri melintas dalam perjalanan mendekat dan berlarian menuju kebenaranMu.

Rabbi, jika semua rasa ini hanya mimpi dariMu, maka bangunkan aku segera. Kumohon, sadarkan aku dari tidur panjang yang kureka-reka sendiri. Musnahkan semua rasa dan tinggalkan satu cinta. Cinta yang dengan sabar Engkau ajarkan padaku perlahan-lahan, cinta dariMu, sepanjang hidupku, sepanjang matiku.

Namun jika ini nyata, jadikanlah aku tetap terjaga. Jangan biarkan aku lengah, ya Rabb. Apalagi sampai tergelincir, walau di jurang terdangkal sekalipun. Karena aku tak ingin ia terluka sedikitpun. Karena ia adalah persembahan. Sebentuk cinta padanya untukMu.

Maka halaulah segala ketakutan ini, karena aku ingin yakin bersamaMu, dengan janjiMu yang pasti. Kuserahkan semua padaMu, Pemilikku, Pelindungku, Pemeliharaku…
agar gelisah ini merayap pergi.

Advertisements

~ by Ayuning Mazasupa on October 5, 2007.

3 Responses to “Gelisah merayap pergi…”

  1. maaf KALAU ini jadi mengingatkanmu tentang kakak, deeply sorry…

  2. Kenapa Mesti sedih? bersedih, bagi saya, adalah sebuah energi baru. saya merasakan bahwa kesediahan mampu menggairahkan hidup ini. memang sih, terkadang kita tak sadar kalau kesedihan itu punya banyak guna. salah satunya,menurut hemat saya, adalah menjadikan kita manusia-manusia “langit”. oh, masak sih? pasti saya berhayal. nggak percaya? baca aja postingan saya di
    http://rusdin.wordpress.com

    di situ saya ceritakan betapa manusia dipenuhi rasa khilat tiap detik demi detik. silahkan kamu membacanya. mudah-mudahan menjadi penghapus rasa kesedihanmu itu, adekku.

    ======================================

    dah ga sedih kok, Ka!
    aku justru senang, di kala sedih, aku bisa tersungkur dalam-dalam di hadapanNya
    dan itu rasanya romantiiiiisss bangedd!! brrrr…

  3. semakin q baca semakin menerka2…semakin q baca semakin banyak memory yg terbuka…
    kayaknya klo kta bertatap muka q pengen banyak bertanya…boleh ??

    ==================

    owalah, dit. Lha wong tadi pagi pas sholat id kan kita ketemu di senayan. Ngapain kok ga langsung nanya.
    Hhmmm, kayaknya mo ditabung buat besok waktu kamu mo maen ke kontrakanku yaa?
    Waduh-waduh, aku harus siap mental nih, diinterogasi…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: